Makalah Rapat Bisnis
MAKALAH
KOMUNIKASI BISNIS
“RAPAT BISNIS”
|
FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
UPN VETERAN JAWA TIMUR
|
|
AKUNTANSI/II
|
|
Nama Kelompok :
ROCHMAD PRASETYO (1513010040)
LENI SRI WIDYASTUTIK (1513010090)
BABY NOVIANIS
|
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat Limpahan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyusun
makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini
saya akan membahas mengenai “ RAPAT BISNIS “.
Makalah ini telah dibuat dengan bantuan dari berbagai
pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan
makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini, termasuk dosen kami.
Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang
mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu, kami mengundang pembaca untuk
memberikan kritik dan saran yang dapat membantu kami. Kritik dari pembaca
sangan kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Surabaya, 18 Mei 2016
Penyusun
Pengertian
Rapat Bisnis.
Pada
dasarnya, istilah rapat tentu bukanlah hal yang asing dalam dunia bisnis maupun
nonbisnis, baik yang bersekala kecil, menengah, atau besar. Rapat yang mereka
selenggarakan pada umumnya melibatkan dua orang atau lebih untuk membahas
sesuatu. Oleh karena itu pengertian Rapat Bisnis (business meeting)
adalah sebagai bentuk pertemuan dua orang atau lebih disuatu tempat, baik
didalam maupun diluar kantor untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan
kegiatan bisnis tertentu.
Dalam dunia
bisnis, Rapat Bisnis biasa nya dapat diselenggarakan didalam maupun diluar
kantor perusahaan. Rapat bisnis yang diselenggarakan didalam perusahaan pada
umumnya membahas harian atau mingguan, menyampaika pendistribusian barang
kesuatu daerah, menyiapkan berbagai kebutuhan bahan baku untuk proses produksi
berikutnya, dan menyiapkan alat-alat tulis kantor (ATK).
Sedangkan
Rapat Bisnis yang diselenggarakan diluar perusahaan biasanya menyangkut hal-hal
yang sifatnya khusus dan bersifat stategis serta jumlah persertanya yan cukup
banyak, biasa nya rapat bisnis diselenggarakan di hotel.
Dengan kata
lain, pemilihan tempat penyelenggaraan sebuah pertemuan (Rapat Bisnis) apakah
didalam atau diluar perusahaan dapat dilakukan berdasarkan urgensi atau tingkat
kepentingannya, jumlah pesertanya, dan ketersediaan factor financial (dana)
pendukungnya.
Perbedaan
Rapat Bisnis dengan Rapat Non-Bisnis.
Apa yang
membedakan antara Rapat Bisnis dengan Rapat Non-Bisnis (nonbusiness
meeting)! Salah satu factor yang membedakan rapat bisnis dengan rapat non-bisnis
adalah tujuan atau orientasi penyelenggaraan sebuat pertemuan. Dalam dunia ini
rapat bisnis tentu orientasi atau tujuan nya adalah bisnis yaitu dengan
memperoleh keuntungan (laba), disamping itu rapat bisnis umumnya bersifat resmi
atau formal dan cenderung protokoler seremonial.
Sedangkan
non-bisnis orientasi atau tujuannya adalah untuk tujuan kemasyarakatan,
peningkatan pelayanan kesehatan, dan pendidikan. Berdasarkan sifatnya rapat
non-bisnis bersifat formal dan tidak formal.
Tujuan Rapat
Bisnis.
Menurut
Locker dalam bukunya Business Communication: Building Critical Skills
menyatakan bahwa sebuah rapat pada umumnya mempunyai enam tujuan. Antara lain:
1. Berbagi informasi
Rapat bisnis
yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan bisa saja hanya dimaksudkan untuk
menginformasikan berbagai informasi penting yang harus diketahui oleh peserta
rapat, diikuti dengan sesi Tanya jawab. Contoh: manajer pemasaran
menginformasikan kepada peserta rapat bahwa perkembangan penjualan selama satu
semester ini mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan bila dibandingkan
dengan penjualan semester lalu.
2. Penjajakan ide/gagasan (brainstorming)
Tujuan dari
rapat bisnis tentang penjajakan ide/gagasan (brainstorming) biasa nya berjalan
dengan memperkenalkan ide-ide baru yang akan dikerjakan oleh perusahaan yang
akan datang, atau bisa juga sebagai pertemuan antar karyawan untuk mengeluarkan
ide-ide dari masing-masing karyawan untuk kemajuan perusahaan.
3. Evaluasi ide/gagasan
Tujuan
evaluasi ide/gagasan biasanya para karyawan diperbolehkan mengeluarkan pendapat
nya tentang ide/gagasan yang baru yang akan dikerjkan untuk kemajuan perusahaan
pada waktu yang akan mendatang.
4. Pengambilan keputusan
Tujuan
pengambilan keputusan seperti ini biasa nya hanya para kepala atasan yang
memegang perusahaan tersebut yang menjalankan rapat untuk membahas suatu
ide/gagasan yang baru apakah ide/gagasan tersebut dapat dijalankan dengan baik
atau malah merugikan perusahaan.
5. Membuat dokumen
Tujuan
membuat dokumen sebelum ide-ide atau gagasan dijalankan oleh para karyawan
biasanya mereka harus membuat suatu dokumen yang dibahas didalam rapat bisnis
untuk mempelancar kemajuan perusahaan berjalan lancar.
6. Memotivasi pekerja
Tujuan
memotivasi para pekerja biasanya diselenggarakan oleh bos perusahaan untuk
mengumpulkan para karyawannya untuk memberikan motivasi kepada karyawannya agar
mereka lebih meningkatkan kinerja kerja mereka untuk kemajuan perusahaan tersebut.
Jenis-Jenis
Rapat.
Oliver
Serrat dalam Conductin Effective Meetings mengelompokan rapat ke dalam
lima jenis, antara lain:
1. Pengarahan (Briefing)
Briefing sering disebut juga sebagai rapat pengarahan
(direct atau instruct meeting). Dalam briefing pimpinan rapat cenderung hanya
menyampaikan informasi atau memberikan arahan, perintah kepada karyawan dalam
suatu perusahaan untuk melakukan atau menyelesaikan suatu tugas tertentu.
Disamping itu briefing juga dimaksudkan untuk mengingatkan kembali para karyawan
tentang peran, tugas, dan tanggung jawab mereka dalam menjaga dan mengembangkan
perusahaan kedepan.
Dalam praktiknya, pelaksanaan briefing
disuatu perusahaan dapat bervariasi. Ada perusahaan yang melakukan briefing
terjadwal secara rutin dan periodic (misalnya, setiap hari senin jam 08:00
hingga jam 09:00 atau setiap hari mulai
jam 08:00 hingga jam 09:00). Namun, ada juga perusahaan yang
menyelenggarakan kegiatan briefing yang bersifat incidental. (perusahaan
menyelenggarakan kegiatan briefing sesuai dengan kebutuhan dan waktunya tidak
teratur, mungkin seminggu sekali, dua kali atau bahkan dalam satu minggu tidak
ada kegiatan briefing. Atau bisa diartikan briefing yang dilakukan secara
incidental tersebut waktu nya tidak dapat dipastikan atau tidak menentu.
2. Rapat konsultasi (advisory meeting)
Rapat konsultasi ini disebut juga sebagai suatu rapat
berbagai informasi (sharing information) kepada pihak lain. Dalam rapat
tersebut dimaksudkan terjadi suatu proses untuk saling member dan menerima ide,
gagasan, pandangan, keluhan atau masukan dari pihak lain.
3. Rapat komite (commite meeting)
Rapat komite merupakan suatu bentuk pertemuan
sekelompok orang yang memiliki latar belakang profesi atau pekerjaan yang
berbeda-beda untuik memutuskan suatu masalah tertentu berdasarkan keputusan
suara terbanyak (voting). Kelompok yang ada dalam rapat ini memiliki otoritas,
kompromi, dan resolusi. Oleh karena itu peserta rapat komite terdiri dari
sekelompok orang dengan berbagai profesi, tidak mengherankan apabila dalam
proses pengambilan keputusan terjadi diskusi atau perdebatan yang
berkepanjangan (debat kusir) dan tanpa hasil. Namun yang terp[enting dalam
rapat komite adalah setelah ada kesepakatan melalui suara terbanyak, siapapun
yang terlibat didalamnya harus sepakat menerima keputusan bersama tersebut.
4. Rapat dewan (council meeting)
Rapat dewan merupakan pertemuan yang terdiri atas
sekelompok orang dengan latar belakang minat yang berbeda-beda untuk memutuskan
masalah tertentu dengan cara mencari consensus bersama diantara mereka.
Mengingat bahwa diantara peserta yang ada dalam rapat tersebut tentu memiliki
ide, cara dan pandangan yang mungkin berbeda dengan peserta yang lain, dengan
kata lain ada jalan panjang dan berliku menuju sebuah keputusan consensus
bersama.
5. Negosiasi (negotiation)
Dalam dunia bisnis yang selalu dinamis, tentu
permasalahan negosiasi tak dapat dihindari. Negosiasi bukanlah monopoli
perusahaan yang bersekala menenah dan besar. Bahkan pada perusahaan bersekala
kecil dan menengah pun terjadi proses negosiasi dalam dunia bisnis mereka. Pada
dasar nya dalam proses negosiasi terdapat sekelompok orang yang memiliki
kepentingan, maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Melalui proses negosiasi
diantara mereka diharapkan dapat diperoleh suatu titik temu atau kesepakatan
dengan cara-cara yang saling menguntungkan semua pihak.
Sedangkan
menurut “Streibel dalam The Manager’s Guide To Effective Meetings”,
rapat dapat dikelompokan kedalam tiga jenis, yaitu:
1. Rapat informasional (informational meeting)
Rapat informasional merupakan pertemuan antara dua
orang atau lebih disuatu tempat yang dimaksudkan untuk menyampaikan informasi
tertentu kepada para peserta rapat bisnis. Hal yang perlu diperhatikan adalah
cara menyampaikan sebuah informasi: usahakan informasi tersebut dijelaskan
dengan jelas, ringkas, menarik dan tidak bertele-tele.
Informasi
yang diberikan kepada para peserta rapat bisnis tersebut dapat berupa: 1. informasi umum yang bersifat rutin, misalnya:
informasi tentang diseiplin kerja, tata cara pelayanan umum, dan persiapan
kebutuhan alat tulis kiantor (ATK) dan 2.
informasi khusus yang bersifat strategic, misalnya: informasi tentang
pengembangan produk baru, rencana akusisi perusahaan lain, ekspansi perusahaan
ke mancanegara, serta perubahan visi dan misi perusahaan.
2. Rapat motivasional (motivational meeting)
Rapat motivasional merupakan suatu pertemuan antara
dua orang atau lebih disuatu tempat untuk memotivasi para peserta rapat dalam
melakukan sesuatu. Contoh: pimpinan rapat yang sekaligus sebagai seorang
manajer pemasaran memotivasi para peserta rapat bisnis untuk bekerja dengan
lebih bersemangat, mengingatkan komitmen nya, meningkatkan kedisiplinan kerja,
mengingatkan keterampilan berkomunikasi, serta meningkatkan kemampuan bernegosiasi.
3. Rapat partisipatif (participatory meeting)
Rapat partisipatif merupakan suatu pertemuan antara
dua orang atau lebih di suatu tempat untuk meningkatkan tingkat partisipasi
dalam rapat bisnis. Salah satu bentuk partisipasi peserta rapat bisnis adalah
kemampuan untuk mendengarkan dengan baik. Karena pendengar yang baik dapat
memahami cara berfikir orang lain, serta menghargai ide, gagasan, atau
pandangan peserta rapatbisnis yang lain.
Perencanaan
Rapat Bisnis
Untuk
menghasilkan sebuah keputusan rapat bisnis yang baik dan pelaksanaannya
berjalan dengan baik, diperlukan perencanaan sebaik-baiknya. Perencanaan
(planning) yang baik tentu akan membantu mempermudah pencapaian tujuan yang di
kehendaki. Untuk memberikan arahan selama rapat bisnis berlangsung, perlu
disiapkan rancangan agenda rapat bisnis mulai dari awal hingga akhir (selesai).
Ada beberapa
cirri tentang bagaimana mendisain sebuah agenda rapat bisnis yang baik, antara
lain:
· Cantumkan tanggal, tempat, waktu mulai, dan waktu
selesai.
· Cantumkan rumusan tujuan atau maksud rapat.
· Cantumkan siapa saja yang hadir.
· Daftar topic yang akan dibahas.
· Alokasi waktu untuk setiap topic yang dibahas.
· Bahan-bahan bagi peserta yang harus diselesaikan
sebelum rapat dimulai.
· Bahan-bahan rapat dibagikan kepada setiap peserta
rapat bisnis selambat-lambatnya seminggu sebelum rapat bisnis diadakan.
Ada beberapahal yang perlu dipersiapkan dan
diperhatikan dengan baik, khususnya bagi anda yang bertugas sebagai panitia
penyelenggara rapat bisnis, antara lain:
1. Undangan.
Undanga
rapat bisnis bagi peserta sebainya diedarkan beberapa hari sebelum rapat bisnis
berlangsung, misalnya seminggu sebelumnya dan dilengkapi dengan bahan-bahan
yang akan dibahas dalam rapat bisnis tersebut. Hindari penyampaiyan rapat
bisnis secara mendadak , misalnya sehari sebelum pelaksanaan rapat bisnis tanpa
dilengkapi dengan bahan atau materi yang akan dibahas dalam rapat bisnis
tersebut.
2. Waktu dan tempat.
Waktu dan
tempat pelaksanaan rapat bisnis perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum
undangan diedarkan keseluruh peserta rapat. Dalam hal ini waktu menunjukan
tanggal, bulan, tahun dan jam berapa rapat bisnis dilaksanakan. Sedangkan
mengenai tanggal pelaksanaan nya rapat bisnis perlu dicantumkan secara jelas
dan terinci. Misalnya; tempat pelaksanaan rapat bisnis diruang arjuna wiwaha,
lantai 2 hotel permata indah, jalan kusuma bangsa no. 223 telp. (0271)123456
Sukarta 57126.
3. Berapa lama waktu rapat bisnis.
Dalam hal
ini menujuk pada waktu mulai dan berakhirnya rapat bisnis. Penetapan waktu akan
dimulainya dan berakhirnya sebuah rapat tentu sangat penting artinya bagi para
peserta rapat bisnis. Sebagai contoh, dalam undangan dicantumkan dengan jelas
bahwa rapat bisnis akan berlangsung mulai jam 08:00 hingga jam 16:00.
4. Pembawa acara.
Adakalanya,
pembawa acara (MC) diperlukan untuk memandu rapat bisnis agar berjalan dengan
lancar, pembawa acara harus memahami dengan baik sebuah agenda rapat bisnis.
5. Ketua panitia penyelenggaraan.
Pada
umumnya, ketua panitia memberikan laporan atas pelaksanaan rapat bisnis.
Misalnya, maksud dan tujuan rapat bisnis, jumlah peserta dan bidang fungsional
(misalnya; departemen pemasaran, produksi, keuangan, sumber daya manusia dan
teknologi informasi).
6. Jumlah peserta.
Perlu
dipastikan jumlah peserta rapat bisnis yang akan diundang dalam rapat bisnis
tersebut. Kepastian jumlah peserta tentu berkaitan erat dengan jumlah kursi
yang harus disiapkan, bahan-bahan rapat bisnis, kamar penginapan yang
disediakan (bila harus menginap dihotel), dan konsumsi yang harus disediakan
bagi para peserta rapat bisnis.
7. Peserta yang diundang.
Peserta
rapat bisnis bisa berasal dari berbagai devisi, departemen, atau bagian dalam
dan luar perusahaan. Dalam hal ini perlu dipastikan nama peserta dan jabatan
fungsional dalam suatu perusahaan, misalnya: Sdr. Muhammad Rifai Hidayat
jabatan fungsionalnya sebagai manajer pemasaran dari luar perusahaan atau Sdr.
Ridho Amirudin sebagai manajer produksi dari dalam perusahaan.
8. Orang yang membuka atau menutup rapat bisnis.
Pada umumnya,
pimpinan tertinggi suatu perusahaan, departemen atau divisi fungsional diberi
kesempatan untuk membuka dan menutup acara resmi agenda rapat bisnis, namun
dalam praktiknya pejabat yang diundang untuk membuka dan menutup suatu rapat
bisnis dapat dilakukan pejabat yang berbeda. Hal ini sangat tergantung pada
situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu.
9. Narasumber.
Penunjukan
siapa yang diminta menjadi narasumber (presenter) dalam rapat bisnis sangat
tergantung pada keputusan pihak manajemen internal perusahaan, apakah nara
sumbernya berasal dari luar perusahaan atau dari dalam perusahaan. Siapa saja
yang diminta menjadi nara sumber atau yang akan menyampaikan materi rapat
bisnsi tentunya adalah para professional atau para ahli dibidannya.
10. Alokasi waktu untuk narasumber.
Pada
umumnya, dalam rancangan agenda rapat bisnis sudah dicantumkan dengan jelas
berapa waktu untuk masing-masing nara sumber yang akan menyampaikan materinya
dalam rapat bisnis tersebut, dan berapa waktu yang disediakan untuk sesi Tanya
jawab.
11. Waktu istirahat.
Agenda rapat
bisnis seharus nya sudah memperhitungkan waktu khusus untuk beristirahat,
sholat dan makan siang, atau makan malam. Waktu istirahat sangat diperlukan
bagi para peserta untuk menyegarkan kembali energy yang terkuras selama
berjam-jam disalam ruang rapat bisnis. Pikiran yang sear diharapkan dapat
membantu memunculkan ide-ide yang segar dan cerdas bagi kemajuan perusahaan
kedepan.
12. Presensi peserta.
Petugas yang
diberi tugas untuk mengecek presensi (kehadiran) peserta sudah selayaknya
dating lebih awal disbanding dengan peserta rapat bisnis. Dalam hal ini tetugas
presensi sudah menyiapkan semua daftar peserta dengan benar, baik jumlah maupun
penulisan nama nya.
13. Akomodasi.
Petugas yang
menangani bidang akomodasi rapat bisnis berperan penting dalam kesuksesan
sebuah rapat bisnis, dalam hal ini bidang akomosdasi mencangkup kesiapan
penginapan dan konsumsi bagi peserta rapat bisnis.
14. Sound system.
Sebelum
kegiatan rapat bisnis berlangsung, patikan semua komponen sound system
berfungsi dengan baik dan tidak ada yang bermasalah. Pastikan bahwa mikrofon
bagi narasumber dan peserta berfungsi dengan baik. Patikan tata suara dalam
ruangan berfungsi dengan sangat baik, tidak ada suara feedback atau
gema.
15. Computer portable, LCD projector dan flip charts.
Diera
teknologi dan informasi yang semakin pesat, ketersediaan computer portable
(laptop), LCD projector, dan flip charts untuk penyelanggaraan rapat bisnis
sudah menjadi kebutuhan bagi para pelaku bisnis.
16. Fasilitas pendukung lain nya.
Fasilitas
pendukung yang sebainya disiapkan oleh panitia penyelenggaraan tempat bisnis
adalah ketersediaan kamar kecil (toilet) dan mushola. Hal ini karna kegiatan
rapat bisnis berlangsung cukup lama, maka ketersediaan fasilitas kamar kecil
dan musholah akan sangat membantu kebutuhan para peserta rapat bisnis tersebut.
Pelaksanaan
Rapat Bisnis.
Setelah
penitia penyelenggara melakukan berbagai persiapan rapat bisnis, langkah
berikutnya adalah bagaimana malaksanakan rapat bisnis agar berjalan dengan
lancar dan efektif. Efektivitas sebuah rapat bisnis sangant ditentukan oleh
tiga komponen penting, yaitu:
|
Panitia
Penyelenggara (Organizer)
|
· Ruangan, dekorasi dan sound system siap digunakan
untuk rapat bisnis.
· Semua panitia siap melakukan tugasnya dan hadir
lebih awal.
· Melakukan registrasi peserta.
· Penyambutan peserta dengan ramah, sopan dan santun.
· Pembawa acara dapat memulai rapat tepat waktu dan
selesai tepat waktu.
· Acuan agenda rapat bisnis yang sudah disiapkan.
· Semua fasilitas (meja, kusi, laptop, LCD projector,
flip charts, konsumsi) tersedia cukup dan dalam.
· Kondisi siap digunakan dengan baik.
· Moderator siap memandu rapat bisnis.
· Siapkan petugas notulen yang cekatan dan terampil.
· Siapkan dokumentasi audio-visual.
· Dokumentasi hasil rapat bisnis.
|
|
Narasumber
(presenter)
|
· Hadir lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.
· Perkenalan identitas diri.
· Siap melakukan presentasi.
· Manfaatkan media audio-visual.
· Terbuka atas masukan dan kritik dari para peserta
· Penampilannya menarik dan menyenangkan.
|
|
Peserta
(participants)
|
· Semua peserta hadir tepat waktu dan melakukan
registrasi peserta.
· Berpakaian rapih dan sopan.
· Mamakai kartu identitas peserta.
· Membawa kelengkapan bahan-bahan untuk rapat.
· Menjadi peserta yang aktif dan penuh inisiatif.
· Menjaga kelancaran, ketenangan dan keterampilan
selama rapat berlangsung.
· Respek (menghargai) terhadap pandangan peserta lain.
· Bertanya sesuai dengan topic yang dibahas dan pada
poin yang di tuju.
· Mengikuti kegiatan sesuai agenda rapat yang telah
disediakan.
|
Salah satu fasilitas pendukung yang perlu
disiapkan panitia penyelenggara rapat bisnis adalah pengaturan posisi tempat
duduk (layout) yang nyaman dan memungkinkan interaksi yang baik antara pimpinan
dan peserta rapat bisnis. Menurut Dobson, ada beberapa peraturan tempat duduk
yang dapat digunakan untuk penyelenggaraan rapat bisnis, antara lain:
1. Gaya persegi empat (Boardroom style)
Susunan
tempat duduk yang berbentuk/gaya persegi empat (boardroom style) dapat
digunakan untuk rapat bisnis denan jumlah peserta rapat bisnis yang relative
terbatas.
2. Bentuk huruf “U” (“U” Shape Style)
Susunan
tempat duduk yang berbentu huruf “U” (U shape) lebih sesuai digunakan
untuk jumlah peserta yang lebih banyak dari pada bentu persegi empat.
3. Gaya ruang kelas (classroom style)
Susunan
tempat duduk yang bergaya ruang kelas (classroom style) dapat digunakan untuk
rapat bisnis yang dihadiri oleh para peserta rapat bisnis dalam jumlah yang
bisa mencapai ratusan orang.
4. Gaya melingkar (circular style)
Susunan gaya
tempat duduk dengan gaya melingkar (circular style) memberikan peluar interaksi
antar peserta menjadi lebih baik dan dalam jumlah yang relative sedikit.
Selain itu,
susunan (layout) tempat duduk juga dapat disusun dalam berbagai gaya (bentuk)
lain,
1. Gaya chevron (chevron style)
tempat duduk
pada gaya ini pada dasarnya memberikan keleluasaan bagi audiens untuk dapat
lebih memuaskan perhatian atau focus pada pembicara yang berada didepan.
Susunan tempat duduk pada gaya ini berbentuk huruf “V”.
2. Gaya
modifikasi (modified style)
Tempat duduk
dengan gaya seperti ini sama dengan gaya chevron, hanya perbedaannya
menempatkan barisan tempat duduk di sisi tengah antara sisi sebelah kiri dan
sisi sebelah kanan, secara umum tampilannya masih berbentuk huruf “V”.
3. Gaya setengah melingkar (semi-circular style)
Tempat duduk
seperti ini pada dasarnya memberikan keleluasaan bagi pembicara untuk bisa
berinteraksi dengan audiensnya lebih dekat.
4. Gaya kelompok (cluster style)
Tempat duduk
seperti ini biasanya disusun berdasarkan kelompok-kelompok kecil dimana audiens
duduk dikursi yang telah disusun secara melingkar.
Tindak Lanjut Rapat Bisnis.
Tindak Lanjut Rapat Bisnis.
Apa yang dihasilkan dalam rapat bisnis hendaknya
didokumentasikan dengan baik, terutama hasil kesepakatan selama pembahasan
topic, sesuai dengan agenda rapat yang telah disetujui bersama, semua bentuk
dokumentasi selama rapat bisnis berlangsung perlu ditinjau ulang, baik pidato
pengarahan pimpinan perusahaan, pandangan para nara sumber, catatan hasil diskusi
Tanya-jawab selama rapat bisnis berlangsung, serta dokumen lainnya yang
berbentuk rekaman audio-visual.
Tim perumus
yang telah disepakati dalam pelaksanaan rapat bisnis tersebut perlu
menindaklanjuti apapun yang telah dirumuskan sementara selama rapat bisnis
tersebut hingga menjelang usai. Selanjutnya, begitu rapat bisnis dinyatakan
selesai, tim perumus segera melakukan kompilasi semua bahan selama rapat bisnis
berlangsung, termasuk dokumentasi audio-visual. Dalam hal ini tim perumus perlu
melibatkan berbagai pihak untuk menghasilkan dokumen penting hasil rapat bisnis
tersebut. Selanjutnya, secara formal pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan rapat bisnis tersebut membubuhkan tanda tangan dan
menyerahkannya ke pimpinan perusahaan untuk menjadi dokumentasi penting yang
harus ditindak lanjuti dikemudian hari.
Apabila
rapat bisnis tersebut melibatkan mitra bisnis dari perusahaan lain, sudah
selayaknya mitra bisnis tersebut memperoleh laporan hasil akhir rapat bisnis.
Hal ini karena mereka terlibat secara aktif bahkan menjadi sponsor penting
dalam rapat bisnis tersebut.
Daftar
Pustaka
1. Buku Komunikasi Bisnis (Djoko
Purwanto:bab18,hal:320)
0 comments: