Bumi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bumi
Foto Bumi, diambil oleh NASA
|
|
Penamaan
|
| Nama alternatif |
Tellus/Telluris atau Terra,[catatan 1] Gaia |
|
|
| Epos J2000,0[catatan 2] |
| Aphelion |
152.098.232 km
1,01671388 SA[catatan 3] |
| Perihelion |
147.098.290 km
0,98329134 SA[catatan 3] |
| Sumbu semi-mayor |
149.598.261 km
1,00000261 SA[1] |
| Eksentrisitas |
0,01671123[1] |
| Periode orbit |
365,256363004 hari[2]
1,000017421 tahun |
| Kecepatan orbit rata-rata |
29,78 km/s[3]
107.200 km/jam |
| Anomali rata-rata |
357,51716°[3] |
| Inklinasi |
7,155° ke ekuator Matahari
1,57869°[4] ke bidang invariabel |
| Bujur node menaik |
348,73936°[3][catatan 4] |
| Argumen perihelion |
114,20783°[3][catatan 5] |
| Satelit |
1 alami (Bulan),
1.070 buatan (pada 24 Oktober 2013)[5] |
|
Ciri-ciri fisik
|
| Jari-jari rata-rata |
6.371,0 km[6] |
| Jari-jari khatulistiwa |
6.378,1 km[7][8] |
| Jari-jari kutub |
6.356,8 km[9] |
| Kepepatan |
0,0033528[10] |
| Keliling khatulistiwa |
40.075,017 km (khatulistiwa)[8]
40.007,86 km (meridian)[11][12] |
| Luas permukaan |
510.072.000 km2[13][14][catatan 6]
148.940.000 km2 daratan (29,2 %)
361.132.000 km2 perairan (70,8 %) |
| Volume |
1,08321×1012 km3[3] |
| Massa |
5,97219×1024 kg[15]
3,0×10-6 Matahari |
| Massa jenis rata-rata |
5,515 g/cm3[3] |
| Gravitasi permukaan di khatulistiwa |
9,780327 m/s2[16]
0,99732 g |
| Kecepatan lepas |
11,186 km/s[3] |
| Hari sideris |
0,99726968 d[17]
23h 56m 4,100s |
| Kecepatan rotasi |
16,744 km/h (4,651 m/s)[18] |
| Kemiringan sumbu |
23°26'21",4119[2] |
| Albedo |
0,367 (Geometri)[3]
0,306 (Bond)[3] |
Suhu permukaan
Kelvin
Celsius |
| min |
rata-rata |
maks |
| 184 K[19] |
288 K[20] |
330 K[21] |
| −89,2 °C |
15 °C |
56,7 °C |
|
|
Atmosfer
|
| Tekanan permukaan |
101,325 kPa (MSL) |
| Komposisi |
78,08% nitrogen (N2)[3] (udara kering)
20,95% oksigen (O2)
0,93% argon
0,039% karbon dioksida[22]
Sekitar 1% uap air (bervariasi sesuai iklim) |
|
|
Bumi adalah
planet ketiga dari
Matahari yang merupakan planet
terpadat dan terbesar kelima dari delapan planet dalam
Tata Surya. Bumi juga merupakan planet terbesar dari empat
planet kebumian Tata Surya. Bumi terkadang disebut dengan
dunia atau
Planet Biru.
[23]
Bumi terbentuk sekitar
4,54 miliar tahun yang lalu, dan
kehidupan muncul di permukaannya pada miliar tahun pertama.
[24] Biosfer Bumi kemudian secara perlahan mengubah
atmosfer dan kondisi
fisik dasar lainnya, yang memungkinkan terjadinya perkembangbiakan
organisme serta pembentukan
lapisan ozon, yang bersama
medan magnet Bumi menghalangi
radiasi surya berbahaya dan mengizinkan makhluk hidup mikroskopis untuk berkembang biak dengan aman di daratan.
[25] Sifat fisik,
sejarah geologi, dan orbit Bumi memungkinkan kehidupan untuk bisa terus bertahan.
Litosfer Bumi terbagi menjadi beberapa segmen kaku, atau
lempeng tektonik, yang mengalami pergerakan di seluruh permukaan Bumi selama
jutaan tahun. Lebih dari 70% permukaan Bumi ditutupi oleh air,
[26]
dan sisanya terdiri dari benua dan pulau-pulau yang memiliki banyak
danau dan sumber air lainnya yang bersumbangsih terhadap pembentukan
hidrosfer.
Kutub Bumi sebagian besarnya tertutup es; es padat di
lapisan es Antarktika dan
es laut di
paket es kutub.
Interior Bumi masih tetap aktif, dengan
inti dalam terdiri dari besi padat, sedangkan
inti luar berupa
fluida yang menciptakan medan magnet, dan lapisan tebal yang relatif padat di bagian
mantel..
Bumi
berinteraksi secara gravitasi dengan objek lainnya di luar angkasa, terutama Matahari dan
Bulan. Ketika mengelilingi Matahari dalam satu orbit, Bumi berputar pada sumbunya sebanyak 366,26 kali, yang menciptakan 365,26
hari matahari atau satu
tahun sideris.
[catatan 7] Perputaran Bumi pada sumbunya
miring 23,4° dari
serenjang bidang orbit, yang menyebabkan perbedaan musim di permukaan Bumi dengan periode satu
tahun tropis (365,24 hari matahari).
[27] Bulan adalah satu-satunya
satelit alami Bumi, yang mulai mengorbit Bumi sekitar
4,53 miliar tahun yang lalu. Interaksi gravitasi antara Bulan dengan Bumi merangsang terjadinya
pasang laut, menstabilkan kemiringan sumbu, dan secara bertahap memperlambat rotasi Bumi.
Bumi adalah tempat tinggal bagi jutaan
makhluk hidup, termasuk
manusia.
[28] Sumber daya
mineral Bumi dan produk-produk
biosfer lainnya bersumbangsih terhadap penyediaan sumber daya untuk mendukung
populasi manusia global.
[29] Wilayah Bumi yang dihuni manusia dikelompokkan menjadi 200
negara berdaulat, yang saling berinteraksi satu sama lain melalui diplomasi, pelancongan, perdagangan, dan aksi militer.
Nama dan etimologi
Dalam bahasa Inggris modern, kata benda
earth dikembangkan dari kata
bahasa Inggris Pertengahan erthe (dicatat pada 1137), yang berasal dari kata
bahasa Inggris Kuno eorthe (sebelum 725), sedangkan kata itu sendiri berasal dari kata
Proto-Jermanik *
erthล.
Earth memiliki kata kerabat pada semua
bahasa Jermanik lainnya, termasuk
aarde dalam
bahasa Belanda,
Erde dalam
bahasa Jerman, dan
jord dalam
bahasa Swedia,
Denmark, dan
Norwegia.
[30] Earth adalah perumpamaan untuk dewi
paganisme Jermanik (atau
Jรถrรฐ dalam
mitologi Norse, ibu dari dewa
Thor).
[31]
Dalam
bahasa Indonesia, kata
bumi berasal dari
bahasa Sanskerta bhumi,
yang berarti tanah, dan selalu ditulis dengan huruf kapital ("Bumi"),
untuk merujuk pada planet Bumi, sementara "bumi" dengan huruf kecil
merujuk pada permukaan dunia, atau tanah.
[32]
Komposisi dan struktur

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Ilmu Bumi
Bumi tergolong
planet kebumian yang umumnya terdiri dari bebatuan, bukannya
raksasa gas seperti
Yupiter.
Bumi adalah planet terbesar dari empat planet kebumian lainnya menurut
ukuran dan massa. Dari keempat planet tersebut, Bumi merupakan planet
dengan kepadatan tertinggi,
gravitasi permukaan tertinggi, medan magnet terkuat, dan rotasi tercepat,
[33] dan diperkirakan juga merupakan satu-satunya planet dengan
tektonik lempeng yang aktif.
[34]
Bentuk
Awan stratokumulus di atas Pasifik, dilihat dari orbit.
Bentuk Bumi kira-kira menyerupai
sferoid pepat, bola yang bentuknya tertekan pipih di sepanjang sumbu dari kutub ke kutub sehingga terdapat
tonjolan di sekitar
khatulistiwa.
[35] Tonjolan ini muncul akibat
rotasi Bumi, yang menyebabkan diameter khatulistiwa
43 km (kilometer) lebih besar dari diameter
kutub ke kutub.
[36] Karena hal ini, titik terjauh permukaan Bumi dari pusat Bumi adalah gunung api
Chimborazo di
Ekuador, yang berjarak 6.384 kilometer dari pusat Bumi, atau sekitar 2 kilometer lebih jauh jika dibandingkan dengan
Gunung Everest.
[37] Diameter rata-rata bulatan Bumi adalah
12.742 km, atau kira-kira setara dengan 40.000 km /
ฯ, karena satuan
meter pada awalnya dihitung sebagai 1/10.000.000 jarak dari khatulistiwa ke
Kutub Utara melewati
Paris,
Perancis.
[38]
Topografi
Bumi mengalami deviasi dari bentuk sferoid ideal, meskipun dalam skala
global deviasi ini tergolong kecil: Bumi memiliki tingkat
toleransi sekitar 584, atau 0,17% dari
sferoid sempurna, lebih kecil jika dibandingkan dengan tingkat toleransi pada
bola biliar (0,22%).
[39] Deviasi tertinggi dan terendah pada permukaan Bumi terdapat di Gunung Everest (8.848 m di atas permukaan laut) dan
Palung Mariana (
10.911 m
di bawah permukaan laut). Karena adanya tonjolan khatulistiwa, lokasi
di permukaan Bumi yang berada paling jauh dari pusat Bumi adalah puncak
Chimborazo di Ekuador dan
Huascarรกn di
Peru.
[40][41][42]
Komposisi kimiawi
Massa Bumi adalah sekitar
5,98×1024 kg. Komposisi Bumi sebagian besarnya terdiri dari besi (32,1%),
oksigen (30,1%),
silikon (15,1%),
magnesium (13,9%),
belerang (2,9%),
nikel (1,8%),
kalsium (1,5%), dan
aluminium (1,4%); sisanya terdiri dari unsur-unsur lainnya (1,2%). Akibat
segregasi massa,
bagian inti Bumi diyakini mengandung besi (88,8%), dan sejumlah kecil
nikel (5,8%), belerang (4,5%), dan kurang dari 1% unsur-unsur lainnya.
[44]
Ahli geokimia
F. W. Clarke menghitung lebih dari 47%
kerak
Bumi mengandung oksigen. Konstituen batuan yang umumnya terdapat pada
kerak Bumi hampir semuanya merupakan senyawa oksida; klorin, belerang,
dan
fluor
adalah tiga pengecualian, dan jumlah total kandungan unsur ini dalam
batuan biasanya kurang dari 1%. Oksida utama yang terkandung dalam kerak
Bumi adalah silika, alumina, besi oksida, kapur, magnesia, kalium, dan
soda. Silika pada umumnya berfungsi sebagai
asam, yang membentuk silikat, dan mineral paling umum yang terdapat pada
batuan beku
adalah senyawa ini. Berdasarkan analisisnya terhadap 1.672 jenis batuan
di kerak Bumi, Clarke menyimpulkan bahwa 99,22% kerak Bumi terdiri dari
11 oksida (lihat tabel di sebelah kanan).
[45]
Struktur dalam
Interior Bumi, seperti halnya planet kebumian lainnya, dibagi menjadi sejumlah lapisan menurut kandungan
fisika atau kimianya (
reologi).
Namun, tidak seperti planet kebumian lainnya, Bumi memiliki inti luar
dan inti dalam yang berbeda. Lapisan luar Bumi secara kimiawi berupa
kerak padat
silikat yang diselimuti oleh mantel
viskose padat. Kerak Bumi dipisahkan dari mantel oleh
diskontinuitas Mohoroviฤiฤ, dengan ketebalan kerak yang bervariasi; ketebalan rata-ratanya adalah
6 km di bawah lautan dan 30-
50 km di bawah daratan. Kerak Bumi, serta bagian kaku dan dingin di puncak
mantel atas, secara kolektif dikenal dengan
litosfer, dan pada lapisan inilah
tektonika lempeng terjadi. Di bawah litosfer terdapat
astenosfer,
lapisan dengan tingkat viskositas yang relatif rendah dan menjadi
tempat melekat bagi litosfer. Perubahan penting struktur kristal di
dalam mantel terjadi pada kedalaman 410 dan
660 km di bawah permukaan Bumi, yang juga mencakup
zona transisi yang memisahkan mantel atas dengan mantel bawah. Di bawah mantel, terdapat fluida
inti luar dengan viskositas yang sangat rendah di atas
inti dalam.
[46] Inti dalam Bumi mengalami perputaran dengan
kecepatan sudut yang sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan bagian planet lainnya, sekitar 0,1-0,5° per tahun.
[47]
Lapisan geologi Bumi[48]
Penampang Bumi dari inti ke eksosfer. |
Kedalaman[49]
km |
Lapisan komponen |
Kepadatan
g/cm3 |
| 0–60 |
Litosfer[catatan 8] |
— |
| 0–35 |
Kerak[catatan 9] |
2.2–2.9 |
| 35–60 |
Mantel atas |
3.4–4.4 |
| 35–2890 |
Mantel |
3.4–5.6 |
| 100–700 |
Astenosfer |
— |
| 2890–5100 |
Inti luar |
9.9–12.2 |
| 5100–6378 |
Inti dalam |
12.8–13.1 |
Panas
Panas dalam Bumi berasal dari perpaduan antara
panas endapan dari akresi planet (sekitar 20%) dan panas yang dihasilkan oleh
peluruhan radioaktif (80%).
[50] Isotop penghasil panas utama Bumi adalah
kalium-40,
uranium-238,
uranium-235, dan
torium-232.
[51] Di pusat Bumi, suhu bisa mencapai 6,000 °C (10,830 °F),
[52] dan tekanannya mencapai 360
GPa.
[53] Karena sebagian besar panas Bumi dihasilkan oleh peluruhan radioaktif, para ilmuwan percaya bahwa pada awal
sejarah Bumi,
sebelum isotop dengan usia pendek terkuras habis, produksi panas Bumi
yang dihasilkan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan saat ini.
Panas yang dihasilkan pada masa itu diperkirakan dua kali lebih besar
daripada saat ini, kira-kira 3 miliar tahun yang lalu,
[50] dan hal tersebut akan meningkatkan gradien suhu di dalam Bumi, meningkatkan tingkat
konveksi mantel dan tektonik lempeng, serta memungkinkan pembentukan
batuan beku seperti
komatiites, yang tidak bisa terbentuk pada masa kini.
[54]
Isotop utama penghasil panas Bumi saat ini[55]
| Isotop |
Pelepasan panas
Wkg isotop |
Paruh hidup
tahun |
Konsentrasi mantel rata-rata
kg isotopkg mantel |
Pelepasan panas
Wkg mantel |
| 238U |
9.46 × 10−5 |
4.47 × 109 |
30.8 × 10−9 |
2.91 × 10−12 |
| 235U |
5.69 × 10−4 |
7.04 × 108 |
0.22 × 10−9 |
1.25 × 10−13 |
| 232Th |
2.64 × 10−5 |
1.40 × 1010 |
124 × 10−9 |
3.27 × 10−12 |
| 40K |
2.92 × 10−5 |
1.25 × 109 |
36.9 × 10−9 |
1.08 × 10−12 |
Rata-rata pelepasan panas Bumi adalah
87 mW m−2, dan
4.42 × 1013 W untuk panas global.
[56] Sebagian energi panas di dalam inti Bumi diangkut menuju kerak oleh
bulu mantel; bentuk konveksi yang terdiri dari batuan bersuhu tinggi yang mengalir ke atas. Bulu mantel ini mampu menghasilkan
bintik panas dan
basal banjir.
[57] Panas Bumi yang selebihnya dilepaskan melalui lempeng tektonik oleh mantel yang terhubung dengan
punggung tengah samudra. Pelepasan panas terakhir dilakukan melalui konduksi
litosfer, yang umumnya terjadi di samudra karena kerak di sana jauh lebih tipis jika dibandingkan dengan kerak benua.
[58]
Lempeng tektonik
Lapisan luar Bumi yang berbentuk lapisan kaku, disebut dengan
litosfer, terpecah menjadi potongan-potongan yang disebut dengan lempeng
tektonik. Lempeng-lempeng ini merupakan segmen kaku yang saling
berhubungan dan bergerak pada salah satu dari tiga jenis batas lempeng.
Ketiga batas lempeng tersebut adalah
batas konvergen, tempat dua lempeng bertumbukan;
batas divergen, tempat dua lempeng saling menjauh; dan
batas peralihan, tempat dua lempeng saling bersilangan secara lateral.
Gempa bumi, aktivitas
gunung berapi,
pembentukan gunung, dan pembentukan
palung laut terjadi di sepanjang batas lempeng ini.
[60]
Lempeng tektonik berada di atas astenosfer, lapisan mantel yang
bentuknya padat tetapi tidak begitu kental, yang bisa mengalir dan
bergerak bersama lempeng,
[61] dan pergerakan ini disertai dengan pola konveksi di dalam mantel Bumi.
Karena lempeng tektonik berpindah di seluruh Bumi, lantai samudra mengalami
penunjaman di bawah tepi utama lempeng pada batas konvergen. Pada saat yang bersamaan, material mantel pada batas divergen membentuk
punggung tengah samudra. Perpaduan kedua proses ini secara berkelanjutan terus mendaur ulang
kerak samudra kembali ke dalam mantel. Karena proses daur ulang ini, sebagian besar lantai samudra berusia kurang dari
100 juta tahun. Kerak samudra tertua berlokasi di Pasifik Barat, yang usianya diperkirakan
200 juta tahun.
[62][63] Sebagai perbandingan, kerak benua tertua berusia
4.030 juta tahun.
[64]
Tujuh lempeng utama di Bumi adalah
Lempeng Pasifik,
Amerika Utara,
Eurasia,
Afrika,
Antarktika,
Lempeng Indo-Australia, dan
Amerika Selatan. Lempeng terkemuka lainnya adalah
Lempeng Arab,
Lempeng Karibia,
Lempeng Nazca di pantai barat Amerika Selatan, dan
Lempeng Scotia di
Samudra Atlantik selatan. Lempeng Australia menyatu dengan Lempeng India kira-kira 50 sampai
55 juta tahun yang lalu. Lempeng dengan pergerakan tercepat adalah lempeng samudra;
Lempeng Cocos bergerak dengan laju kecepatan 75 mm/tahun,
[65] dan Lempeng Pasifik bergerak 52–69 mm/tahun. Sedangkan lempeng dengan pergerakan terlambat adalah
Lempeng Eurasia, dengan laju pergerakan sekitar 21 mm/tahun.
[66]
Permukaan
Permukaan padat Bumi menurut persentase dari luas total permukaan Bumi
Punggung samudra (22.1%)
Lantai cekungan samudra (29.8%)
Pegunungan benua (10.3%)
Dataran rendah benua (18.9%)
Landas benua dan lereng (11.4%)
Tanjakan benua (3.8%)
Busur pulau vulkanik, palung laut, gunung api dasar laut, dan perbukitan (3.7%)
Permukaan Bumi bervariasi dari tempat ke tempat. Sekitar 70,8%
[13] permukaan Bumi ditutupi oleh
air, dan terdapat banyak
landas benua di bawah permukaan laut. Luas permukaan Bumi yang ditutupi oleh air setara dengan
361,132 km2 (139,43 juta sq mi).
[67] Permukaan Bumi yang terendam memiliki bentang pegunungan, termasuk rangkaian punggung tengah samudra dan gunung api bawah laut,
[36] bentang lainnya adalah
palung laut,
lembah bawah laut,
dataran tinggi samudra, dan
dataran abisal. Sisanya, 29,2% (
148,94 km2
atau 57,51 juta sq mi) permukaan Bumi dilingkupi oleh daratan, yang
terdiri dari pegunungan, padang gurun, dataran tinggi, pesisir, dan
geomorfologi lainnya.
Permukaan Bumi mengalami pembentukan kembali pada periode waktu geologi karena aktivitas
tektonik dan erosi. Permukaan Bumi yang terbentuk atau mengalami deformasi akibat tektonika lempeng merupakan permukaan yang mengalami
pelapukan oleh
curah hujan, siklus termal, dan pengaruh kimia.
Glasiasi,
erosi pantai, pembentukan
terumbu karang, dan tubrukan
meteorit besar
[68] merupakan beberapa peristiwa yang memicu pembentukan kembali lanskap permukaan Bumi.
Kerak benua terdiri dari material dengan kepadatan rendah seperti
batuan beku granit dan
andesit. Batuan dengan persentase kecil adalah
basal, batuan vulkanik padat yang merupakan konstituen utama lantai samudra.
[69] Batuan sedimen
terbentuk dari akumulasi sedimen yang terpadatkan. Hampir 75% permukaan
benua ditutupi oleh batuan sedimen, meskipun batuan itu sendiri hanya
membentuk 5% bagian kerak Bumi.
[70] Batuan ketiga yang paling umum terdapat di permukaan Bumi adalah
batuan metamorf,
yang terbentuk dari transformasi batuan yang sudah ada akibat tekanan
tinggi, suhu tinggi, atau keduanya. Mineral silikat yang ketersediaannya
paling melimpah di permukaan Bumi adalah
kuarsa,
feldspar,
amfibol,
mika,
piroksen, dan
olivin.
[71] Sedangkan mineral karbonat paling umum adalah
kalsit (ditemukan pada
batu kapur dan
dolomit).
[72]
Pedosfer adalah lapisan terluar Bumi yang menjadi tempat terjadinya
proses pembentukan tanah. Lapisan ini terletak pada antarmuka
litosfer, atmosfer,
hidrosfer, dan
biosfer.
Total permukaan tanah saat ini adalah 13,31% dari luas total permukaan
Bumi, dan dari jumlah tersebut, hanya 4,71% yang ditanami secara
permanen.
[14] Hampir 40% permukaan tanah dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan padang rumput, dengan rincian 1,3×10
7 km
2 lahan pertanian dan 3,4×10
7 km
2 padang rumput.
[73]
Ketinggian permukaan tanah Bumi bervariasi. Titik terendah berada pada ketinggian −418 m di
Laut Mati, sedangkan titik tertinggi adalah 8.848 m di puncak
Gunung Everest. Ketinggian rata-rata permukaan tanah dihitung dari permukaan laut adalah 840 m.
[74]
Secara logis, Bumi dibagi menjadi Belahan Utara dan Selatan yang
berpusat di masing-masing kutub. Akan tetapi, Bumi secara tidak resmi
juga dibagi menjadi
Belahan Bumi Barat dan
Timur. Permukaan Bumi secara tradisional dibagi menjadi tujuh benua dan berbagai
laut.
Setelah manusia menghuni dan mengelola Bumi, hampir semua permukaan
dibagi menjadi negara-negara. Hingga tahun 2013, terdapat 196 negara
berdaulat dengan jumlah penduduk sekitar 7 miliar yang menghuni
permukaan Bumi.
[75]
Hidrosfer

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Hidrosfer
Histogram ketinggian permukaan Bumi.
Ketersediaan air yang begitu banyak di permukaan Bumi merupakan hal unik yang membedakan "Planet Biru" dengan planet lainnya di
Tata Surya.
Hidrosfer Bumi pada umumnya terdiri dari lautan, namun secara teknis juga mencakup semua
perairan yang terdapat di permukaan Bumi, termasuk
danau,
sungai, laut pedalaman, dan air bawah tanah di kedalaman 2.000 m. Perairan terdalam dari permukaan Bumi adalah
Challenger Deep di
Palung Mariana,
Samudra Pasifik, dengan kedalaman 10.911,4 m di bawah permukaan laut.
[catatan 11][76]
Massa lautan kira-kira 1,35×10
18 metrik ton, atau sekitar 1/4400 dari massa total Bumi. Lautan mencakup area seluas
3,618×108 km2, dengan kedalaman rata-rata
3.682 m, dan volume air sekitar
1,332×109 km3.
[77] Jika daratan di permukaan Bumi tersebar merata, maka ketinggian air akan naik lebih dari 2,7 km.
[catatan 12]
Sekitar 97,5% perairan Bumi adalah air asin, sedangkan 2,5% sisanya
adalah air tawar. Sekitar 68,7% air tawar yang terdapat di permukaan
Bumi pada saat ini adalah es, sedangkan selebihnya membentuk danau,
sungai, mata air, dan sebagainya.
[78]
Tingkat keasinan rata-rata lautan di Bumi adalah 35 gram garam per kilogram air laut (3,5% garam).
[79] Sebagian besar garam ini dihasilkan oleh aktivitas vulkanis atau hasil ekstraksi batuan beku.
[80]
Lautan juga menjadi reservoir bagi gas atmosfer terlarut, yang
keberadaannya sangat penting bagi kelangsungan hidup sebagian besar
organisme air.
[81] Air laut memiliki pengaruh besar terhadap iklim dunia; lautan berfungsi sebagai
reservoir panas utama.
[82] Perubahan suhu di lautan juga bisa menyebabkan perubahan cuaca di berbagai belahan dunia, misalnya
El Niรฑo–Osilasi Selatan.
[83]
Atmosfer
Foto yang memperlihatkan bagaimana Bumi bersinar dalam cahaya
ultraungu.
Rata-rata
tekanan atmosfer di permukaan Bumi adalah 101,325
kPa, dengan
ketingggian skala sekitar 5 km.
[3] Atmosfer mengandung 78%
nitrogen dan 21%
oksigen, selebihnya adalah uap air,
karbon dioksida, dan molekul gas lainnya. Ketinggian
troposfer
beragam menurut garis lintang, berkisar antara 8 km di wilayah kutub
hingga 17 km di wilayah khatulistiwa, dan beberapa variasi yang
diakibatkan oleh faktor musim dan cuaca.
[84]
Biosfer Bumi secara perlahan telah memermak komposisi
atmosfer.
Fotosintesis oksigenik berevolusi
2,7 miliar tahun yang lalu, yang
membentuk atmosfer nitrogen-oksigen utama saat ini.
[85] Peristiwa ini memungkinkan terjadinya proliferasi
organisme aerobik, serta pembentukan
lapisan ozon yang menghalangi
radiasi surya ultraungu
memasuki Bumi dan menjamin kelangsungan kehidupan di darat. Fungsi
atmosfer lainnya yang penting bagi kehidupan di Bumi adalah mengangkut
uap air, menyediakan gas bernilai guna, membakar
meteor berukuran kecil sebelum menghantam permukaan Bumi, dan memoderatori suhu.
[86] Fenomena yang terakhir dikenal dengan
efek rumah kaca;
proses penangkapan energi panas yang dipancarkan dari permukaan Bumi
pada atmosfer sehingga meningkatkan suhu rata-rata. Uap air, karbon
dioksida, metana, dan ozon merupakan
gas rumah kaca
utama pada atmosfer Bumi. Tanpa pemancaran panas ini, suhu rata-rata di
permukaan Bumi akan mencapai −18 °C, berbeda jauh dengan suhu rata-rata
saat ini (+15 °C), dan kehidupan kemungkinan besar tidak akan bisa
bertahan.
[87]
Cuaca dan iklim

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Cuaca dan
Iklim
Atmosfer Bumi tidak memiliki batas pasti, secara perlahan menipis dan
mengabur ke angkasa luar. Tiga perempat massa atmosfer berada pada
ketinggian 11 kilometer dari permukaan Bumi. Lapisan terbawah ini
disebut dengan
troposfer.
Energi dari Matahari memanaskan lapisan ini, serta permukaan di
bawahnya, yang menyebabkan terjadinya pemuaian udara. Udara pada lapisan
ini kemudian bergerak naik dan digantikan oleh udara dingin dengan
kelembaban yang lebih tinggi. Akibatnya, terjadi
sirkulasi atmosferik yang memicu pembentukan
cuaca dan
iklim melalui pendistribusian kembali energi panas.
[88]
Dampak utama sirkulasi atmosferik adalah terjadinya
angin pasat di wilayah khatulistiwa yang berada pada garis lintang 30° dan
angin barat di wilayah-wilayah lintang tengah antara 30° dan 60°.
[89] Arus laut juga menjadi faktor penting dalam menentukan iklim, terutama
sirkulasi termohalin yang menyebarkan energi panas dari lautan di khatulistiwa ke wilayah
kutub.
[90]
Uap air
yang dihasilkan melalui penguapan di permukaan Bumi diangkut oleh pola
sirkulasi di atmosfer. Saat atmosfer melakukan pengangkatan udara hangat
dan lembab, uap air akan mengalami
kondensasi dan mengendap ke permukaan Bumi melalui proses
presipitasi.
[88] Air yang diturunkan ke permukaan Bumi dalam bentuk
hujan kemudian diangkut menuju ketinggian yang lebih rendah oleh
sungai dan biasanya kembali ke laut atau bermuara di
danau. Peristiwa ini disebut dengan
siklus air,
yang merupakan mekanisme penting untuk mendukung kelangsungan kehidupan
di darat dan faktor utama yang menyebabkan erosi di permukaan Bumi pada
periode geologi.
Pola presipitasi atau curah hujan ini sangat beragam, berkisar dari
beberapa meter air per tahun hingga kurang dari satu milimeter.
Sirkulasi atmosferik, topologi, dan perbedaan suhu juga menentukan curah
hujan rata-rata yang turun di setiap wilayah.
[91]
Besar
energi surya yang mencapai Bumi akan menurun seiring dengan meningkatnya lintang. Pada lintang yang lebih tinggi,
cahaya matahari
mencapai permukaan Bumi pada sudut yang lebih rendah dan harus melewati
kolom atmosfer yang lebih tebal. Akibatnya, suhu rata-rata di permukaan
laut menurun sekitar 0,4 °C per derajat jarak lintang dari
khatulistiwa.
[92]
Bumi bisa dibagi menjadi zona lintang spesifik berdasarkan perkiraan
kesamaan iklim. Pembagian ini berkisar dari wilayah khatulistiwa hingga
ke wilayah kutub, yakni zona iklim
tropis (atau khatulistiwa),
subtropis,
iklim sedang, dan
kutub.
[93] Iklim juga bisa diklasifikasikan menurut suhu dan
curah hujan, yang ditandai dengan wilayah iklim dengan massa udara yang seragam. Yang paling umum digunakan adalah sistem
klasifikasi iklim Kรถppen (dicetuskan oleh
Wladimir Kรถppen). Klasifikasi ini membagi Bumi menjadi lima zona iklim (tropis lembab,
kering, lintang tengah lembab,
kontinental, dan kutub dingin), yang kemudian dibagi lagi menjadi subjenis yang lebih spesifik.
[89]
Atmosfer atas
Pemandangan dari orbit yang memperlihatkan Bulan purnama yang setengah tertutup oleh atmosfer Bumi. Foto oleh
NASA.
Di atas troposfer, atmosfer terbagi menjadi
stratosfer,
mesosfer, dan
termosfer.
[86] Masing-masing lapisan ini memiliki
tingkat lincir berbeda, yang umumnya didasarkan pada tingkat perubahan suhu dan ketinggian. Di luar lapisan ini, terdapat lapisan
eksosfer dan
magnetosfer, tempat medan magnet Bumi berinteraksi dengan
angin surya.
[94] Di dalam stratosfer terdapat
lapisan ozon, komponen yang berperan melindungi permukaan Bumi dari sinar ultraungu dan memiliki peran penting bagi kehidupan di Bumi.
Garis Kรกrmรกn, yang dihitung 100 km di atas permukaan Bumi, adalah garis khayal yang membatasi atmosfer dengan
luar angkasa.
[95]
Energi panas menyebabkan beberapa molekul di tepi luar atmosfer Bumi meningkatkan kecepatan sehingga bisa
melepaskan diri dari gravitasi Bumi. Hal ini menyebabkan terjadinya
kebocoran atmosfer ke luar angkasa.
Hidrogen, yang memiliki berat molekul rendah, bisa mencapai
kecepatan lepas yang lebih tinggi dan lebih mudah mengalami kebocoran ke luar angkasa jika dibandingkan dengan gas lainnya.
[96] Kebocoran hidrogen ke luar angkasa mendorong keadaan Bumi dari yang awalnya mengalami
reduksi menjadi
oksidasi.
Fotosintesis
menyediakan sumber oksigen bebas bagi kehidupan di Bumi, tetapi
ketiadaan agen pereduksi seperti hidrogen menyebabkan meluasnya
penyebaran oksigen di atmosfer.
[97] Kemampuan hidrogen untuk melepaskan diri dari atmosfer turut memengaruhi sifat kehidupan yang berkembang di Bumi.
[98]
Saat ini, atmosfer yang kaya oksigen mengubah hidrogen menjadi air
sebelum memiliki kesempatan untuk melepaskan diri. Sebaliknya, sebagian
besar peristiwa pelepasan hidrogen terjadi akibat penghancuran
metana di atmosfer atas.
[99]
Medan magnet
Medan magnet Bumi diperkirakan terbentuk karena
dipole magnetik,
dengan kutub magnet berada pada kutub geografi Bumi. Pada khatulistiwa
medan magnet, kekuatan medan magnet di permukaan Bumi mencapai
3.05 × 10−5 T, dengan
momen dipole magnet global
7.91 × 1015 T m3.
[100] Menurut
teori dinamo,
medan magnet dihasilkan di dalam wilayah inti luar tempat energi panas
menciptakan gerakan konveksi material konduksi dan menghasilkan
arus listrik.
Proses ini pada gilirannya menciptakan medan magnet Bumi. Gerakan
konveksi pada inti Bumi berlangsung dengan tidak teratur; kutub magnet
melayang dan secara berkala mengubah arah gaya magnet. Hal ini memicu
terjadinya
pembalikan medan
pada interval tak beraturan, yang berlangsung beberapa kali setiap
jutaan tahun. Pembalikan medan terakhir terjadi sekitar 700.000 tahun
yang lalu.
[101][102]
Medan magnet membentuk lapisan
magnetosfer, yang berfungsi membiaskan partikel yang terkandung dalam
angin surya.
Tepi medan magnet yang mengarah ke Matahari berjarak sekitar 13 kali
radius Bumi. Tabrakan antara medan magnet dan angin surya menghasilkan
sabuk radiasi Van Allen, yakni area berbentuk
torus konsentris dengan
partikel bermuatan energi. Saat
plasma memasuki atmosfer Bumi pada kutub magnet, maka terbentuklah
aurora.
[103]
Rotasi dan orbit
Rotasi
Kala rotasi Bumi yang bersifat relatif terhadap Matahari – disebut
hari Matahari – adalah 86.400 detik dari waktu Matahari rata-rata
(86.400,0025
SI detik).
[104] Karena periode hari Matahari Bumi saat ini lebih panjang dari periode ketika abad ke-19 akibat
akselerasi pasang surut, setiap hari bervariasi antara 0 hingga 2 SI ms lebih panjang.
[105][106]
Kala rotasi Bumi yang relatif terhadap
bintang tetap, dinamakan
hari bintang oleh
International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS), adalah
86.164,098903691 detik dari waktu Matahari rata-rata (UT1), atau
23h 56m 4,098903691s.[2][catatan 13] Kala rotasi Bumi yang relatif terhadap
presesi atau pergerakan
ekuinoks vernal, dinamakan
hari sideris, adalah
86.164,09053083288 detik dari waktu Matahari rata-rata (UT1)
(23h 56m 4.09053083288s) pada 1982.
[2] Dengan demikian, hari sideris kira-kira lebih singkat 8,4 ms dari hari bintang.
[107] Panjang hari Matahari rata-rata dalam satuan detik SI dihitung oleh IERS untuk periode 1623–2005
[108] dan 1962–2005.
[109]
Selain
meteor
pada atmosfer dan satelit berorbit rendah, gerakan utama benda langit
di atas Bumi adalah ke arah barat, dengan laju 15°/jam = 15'/menit.
Untuk benda langit di dekat
khatulistiwa angkasa,
pergerakannya terlihat pada diameter Matahari dan Bulan setiap dua
menit; dari permukaan Bumi, ukuran Matahari dan Bulan kurang lebih sama.
[110][111]
Orbit
Animasi yang menampilkan rotasi Bumi.
Bumi mengorbit Matahari pada jarak rata-rata sekitar 150 juta kilometer setiap 365,2564
hari Matahari rata-rata, atau satu
tahun sideris.
Dari Bumi, akan terlihat jelas gerakan Matahari ke arah timur dengan
laju sekitar 1°/hari, yang memperjelas diameter Bulan atau Bumi setiap
12 jam. Karena pergerakan ini, Bumi membutuhkan waktu rata-rata 24 jam
(atau hari Matahari) untuk menyelesaikan putaran penuh pada porosnya
sehingga Matahari bisa kembali ke
meridian.
Rata-rata kecepatan orbit Bumi adalah 29,8 km/s (107.000 km/h), cukup
cepat untuk menempuh jarak yang sama dengan diameter planet, atau
sekitar 12.742 km dalam waktu tujuh menit, dan jarak ke
Bulan, 384.000 km dalam waktu 3,5 jam.
[3]
Bulan berputar dengan Bumi mengelilingi
barisentrum setiap 27,32 hari. Saat dipadukan dengan sistem revolusi Bumi-Bulan mengelilingi Matahari, periode
Bulan sinodik dari bulan baru ke bulan baru adalah 29,53 hari. Jika dilihat dari
kutub utara langit,
gerakan Bumi, Bulan, dan rotasi sumbu mereka berlawanan dengan jarum
jam. Sedangkan jika dilihat dari sudut pandang di atas kutub utara, baik
Matahari dan Bumi, Bumi berputar dengan arah berlawanan mengelilingi
Matahari. Bidang orbit dan sumbu Bumi tidak teratur; sumbu Bumi
miring sekitar 23,4 derajat dari serenjang bidang orbit Bumi-Matahari (
ekliptika),
dan bidang orbit Bumi-Bulan miring sekitar ±5,1 derajat dari bidang
orbit Bumi-Matahari. Tanpa kemiringan ini, akan muncul gerhana setiap
dua minggu, bergantian antara
gerhana bulan dan
gerhana matahari.
[3][112]
Bukit sfer, atau lingkup pengaruh
gravitasi Bumi, adalah sekitar 1,5 Gm atau 1.500.000 km di radius.
[113][catatan 14]
Ini adalah jarak maksimum saat pengaruh gravitasi Bumi lebih kuat
daripada Matahari dan planet-planet jauh. Objek harus mengorbit Bumi
dalam radius ini, atau mereka akan terkena dampak perturbasi gravitasi
Matahari.
Bumi, bersama dengan
Tata Surya, terletak di
galaksi Bima Sakti dan mengorbit sekitar 28.000
tahun cahaya dari pusat galaksi. Saat ini, Bumi berada sekitar 20 tahun cahaya di atas
bidang galaktik di
lengan spiral Orion.
[114]
Kemiringan sumbu dan musim
Karena
kemiringan sumbu
Bumi, jumlah sinar matahari yang jatuh pada titik tertentu di permukaan
Bumi bervariasi sepanjang tahun. Hal ini menyebabkan perubahan
musim pada iklim.
Musim panas di
belahan utara terjadi saat Kutub Utara mengarah tepat ke Matahari, dan
musim dingin
berlangsung di saat sebaliknya. Ketika musim panas, hari berlangsung
lebih lama dan Matahari naik lebih tinggi di langit. Pada musim dingin,
iklim pada umumnya menjadi lebih dingin dan hari berjalan dengan lebih
pendek. Di atas
Lingkar Arktik, peristiwa ekstrem terjadi saat tidak ada siang hari dan malam berlangsung lebih dari 24 jam sehubungan dengan fenomena
malam kutub. Di
belahan selatan, situasinya berkebalikan dengan Kutub Utara; orientasi
Kutub Selatan berlawanan dengan arah Kutub Utara.
Secara astronomis, empat musim ditentukan oleh
titik balik matahari – titik saat kemiringan sumbu maksimum orbit menuju atau menjauh dari Matahari – dan
ekuinoks, saat arah kemiringan dan arah Matahari berada pada satu garis tegak lurus (serenjang). Di belahan utara,
titik balik matahari musim dingin terjadi pada tanggal 21 Desember,
titik balik matahari musim panas pada 21 Juni,
ekuinoks musim semi sekitar tanggal 20 Maret, dan
ekuinoks musim gugur
tanggal 23 September. Di belahan selatan, situasinya terbalik; titik
balik matahari musim panas dan musim dingin terjadi sebaliknya dan
ekuinoks musim semi dan musim gugur dipertukarkan tanggalnya.
[115]
Sudut kemiringan Bumi relatif stabil dalam jangka waktu yang lama. Kemiringan ini mengalami
nutasi; gerakan kecil dan tidak teratur dengan periode utama 18,6 tahun.
[116]
Orientasi (bukannya sudut) dari sumbu Bumi juga berubah dari waktu ke
waktu, yang mengalami presesi di sekeliling lingkaran penuh setiap
25.800 tahun; presesi inilah yang menyebabkan perbedaan antara
tahun sideris dan
tahun tropis.
Kedua gerakan ini disebabkan oleh adanya daya tarik yang beragam dari
Matahari dan Bulan terhadap tonjolan khatulistiwa Bumi. Dari sudut
pandang Bumi, kutub juga berpindah beberapa meter di sepanjang
permukaan.
Gerakan kutub ini memiliki beberapa komponen siklis, yang secara kolektif dikenal dengan
gerakan kuasiperiodik. Selain komponen tersebut, terdapat siklus 14 bulanan yang dinamakan
gerakan Chandler. Kecepatan rotasi Bumi juga bervariasi, yang dikenal dengan fenomena variasi panjang hari.
[117]
Di zaman modern,
perihelion Bumi terjadi sekitar tanggal 3 Januari, dan
aphelion pada tanggal 4 Juli. Tanggal ini akan berubah seiring waktu karena proses
presesi dan faktor orbital lainnya, yang mengikuti pola siklus yang dikenal dengan
siklus Milankovitch. Perubahan jarak antara Bumi dan Matahari menyebabkan meningkatnya energi surya yang mencapai Bumi sebesar 6,9%.
[catatan 15]
Karena belahan bumi selatan miring menghadap Matahari ketika Bumi
mencapai jarak terdekatnya dengan Matahari, belahan selatan menerima
energi surya yang lebih banyak jika dibandingkan dengan belahan utara
selama setahun. Dampak fenomena ini jauh lebih besar daripada perubahan
energi total yang disebabkan oleh kemiringan sumbu, dan sebagian besar
kelebihan energi tersebut diserap oleh air dalam jumlah banyak di
belahan selatan.
[118]
Kelayakhunian
Kawah tubrukan meteor, saat ini dipenuhi oleh air, menandai permukaan Bumi.
Sebuah planet yang bisa mendukung kehidupan disebut dengan planet
layak huni, meskipun kehidupan tersebut tidak berasal dari sana. Bumi
memiliki air – lingkungan tempat molekul organik kompleks merakit diri
dan berinteraksi, dan memiliki energi yang cukup untuk mempertahankan
metabolisme.
[119] Jarak Bumi dari Matahari, eksentrisitas orbit, laju rotasi, kemiringan sumbu, sejarah
geologi,
atmosfer, dan medan magnet pelindung merupakan faktor-faktor yang
bersumbangsih terhadap kondisi iklim di permukaan Bumi saat ini.
[120]
Biosfer

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Biosfer
Kehidupan Bumi secara keseluruhan membentuk
biosfer. Biosfer Bumi diperkirakan mulai
berevolusi sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu.
[85] Biosfer terbagi menjadi sejumlah
bioma, yang dihuni oleh hewan dan tumbuhan sejenis. Di daratan, bioma dibagi menurut perbedaan lintang,
ketinggian dari permukaan laut, dan
kelembaban.
Bioma kebumian membentang di
Lingkar Antarktika dan
Arktik, di
lintang tinggi atau
wilayah kering, yang umumnya memiliki tumbuhan dan hewan yang jarang;
keanekaragaman spesies mencapai puncaknya di
dataran rendah di lintang khatulistiwa.
[121]
Evolusi kehidupan
Model komputer beberapa
DNA.
Peristiwa kimia yang sangat energik diperkirakan telah menciptakan
sebuah molekul yang mampu mereplika dirinya sendiri sekitar 4 miliar
tahun yang lalu. Setengah miliar tahun kemudian,
nenek moyang pertama dari semua kehidupan muncul.
[122] Proses
fotosintesis
menyebabkan energi surya bisa dinikmati secara langsung oleh bentuk
kehidupan; oksigen yang dihasilkan melalui fotosintesis terkumpul di
atmosfer dan membentuk
lapisan ozon (bentuk
oksigen molekul [O
3]) di atmosfer bagian atas.
[85] Penggabungan sel-sel kecil di dalam
sel yang lebih besar menyebabkan
perkembangan sel-sel kompleks yang disebut dengan
eukariota.
[123] Organisme multisel terbentuk sebagai sel di dalam
koloni khusus. Dengan diserapnya
radiasi ultraungu berbahaya oleh lapisan
ozon, kehidupan berkembang di permukaan Bumi.
[124] Bukti awal
kehidupan di Bumi adalah
grafit berusia 3,7 miliar tahun yang ditemukan di
batuan metasedimen di
Greenland Barat[125] dan
fosil lapisan mikroba berusia 3,48 miliar tahun yang ditemukan di
batu pasir di
Australia Barat.
[126][127]
Sejak 1960-an, muncul hipotesis yang menitikberatkan peristiwa
glasial yang terjadi antara 750 hingga 580 juta tahun yang lalu pada era
Neoproterozoikum, ketika sebagian besar permukaan Bumi ditutupi oleh lapisan es. Hipotesis ini disebut dengan "
Bumi Bola Salju", dan diperhitungkan karena terjadi sebelum
ledakan Kambrium, saat bentuk
kehidupan multisel mulai berkembang biak.
[128]
Setelah ledakan Kambrium sekitar 535 juta tahun yang lalu, terjadi lima
peristiwa kepunahan massal besar.
[129] Peristiwa terakhir terjadi 66 juta tahun yang lalu, saat hantaman asteroid mengakibatkan kepunahan
dinosaurus dan reptil besar lainnya, tetapi beberapa hewan kecil seperti
mamalia
pengerat berhasil selamat. Selama 66 juta tahun terakhir, kehidupan
mamalia telah mengalami diversifikasi, dan beberapa juta tahun
sebelumnya, primata seperti kera Afrika
Orrorin tugenensis mulai memiliki kemampuan untuk berdiri tegak.
[130]
Hal ini mendorong berkembangnya komunikasi dan memberikan nutrisi dan
stimulan yang dibutuhkan bagi otak, yang memicu terjadinya
evolusi umat manusia.
Berkembangnya pertanian, dan diikuti oleh
peradaban, memungkinkan manusia untuk menguasai Bumi dalam waktu singkat karena tidak adanya bentuk kehidupan lain yang mendominasi Bumi.
[131] Hal ini turut memengaruhi sifat dan kuantitas bentuk kehidupan lainnya.
Sumber daya alam dan pemanfaatan lahan
Perkiraan pemanfaatan lahan oleh manusia, 2000[132]
| Pemanfaatan lahan |
Mha |
| Lahan pertanian |
1.510–1.611 |
| Padang rumput |
2.500–3.410 |
| Hutan alam |
3.143–3.871 |
| Hutan ditanami |
126–215 |
| Kawasan perkotaan |
66–351 |
| Lahan produktif, tidak dimanfaatkan |
356–445 |
Bumi menyediakan sumber daya yang digunakan oleh manusia untuk tujuan yang bermanfaat. Beberapa di antaranya adalah
sumber daya tak terbarukan, seperti
bahan bakar mineral, yang sulit untuk ditambah atau diperbarui dalam waktu singkat.
Sebagian besar bahan bakar fosil terkandung dalam kerak Bumi, yang terdiri dari
batu bara,
minyak bumi,
gas alam, dan
metana klarat.
Sumber daya ini dimanfaatkan oleh manusia untuk memproduksi energi atau
sebagai bahan baku untuk memproduksi bahan-bahan kimia. Bijih mineral
juga terbentuk di dalam kerak Bumi melalui proses
genesis bijih, yang disebabkan oleh aktivitas
erosi dan tektonik lempeng.
[133] Mineral ini menjadi sumber konsentrasi bagi banyak
logam dan
unsur kimia bernilaiguna lainnya.
Biosfer Bumi memproduksi banyak produk-produk biologi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, termasuk
makanan, kayu,
obat-obatan, oksigen, dan pendaurulangan limbah-limbah organik.
Ekosistem
darat bergantung pada humus dan air tawar, sedangkan ekosistem laut
bergantung pada nutrisi terlarut yang diluruhkan dari darat.
[134] Pada tahun 1980, 5.053
Mha
lahan di permukaan Bumi terdiri dari hutan dan rimba, 6.788 Mha padang
rumput dan lahan peternakan, dan sisanya 1.501 Mha dibudidayakan sebagai
lahan pertanian.
[135] Jumlah lahan irigasi pada tahun 1993 diperkirakan 2,481,250 square kilometer (958,020 sq mi).
[14] Manusia juga hidup di darat dengan memanfaatkan
bahan bangunan untuk membangun tempat tinggal.
Bencana alam dan lingkungan
Sebagian besar wilayah di permukaan Bumi mengalami cuaca ekstrem seperti
siklon tropis,
badai,
hurikan, atau
taifun
yang mengancam kehidupan di wilayah tersebut. Dari tahun 1980 sampai
2000, bencana-bencana tersebut telah mengakibatkan kematian setidaknya
11.800 jiwa per tahun.
[136] Akibat aktivitas Bumi atau tindakan manusia, banyak wilayah di permukaan Bumi yang dilanda oleh
gempa bumi,
tanah longsor,
tsunami,
letusan gunung berapi,
tornado,
badai salju,
banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan bencana alam lainnya.
Akibat tindakan manusia, wilayah-wilayah tertentu di permukaan Bumi juga kerap mengalami
polusi udara atau air,
hujan asam dan zat beracun, musnahnya vegetasi (
deforestasi,
desertifikasi),
kepunahan spesies,
degradasi tanah, penipisan tanah, erosi, dan pengenalan
spesies invasif.
Menurut
Perserikatan Bangsa-Bangsa, konsensus ilmiah saat ini mengaitkan aktivitas manusia dengan
pemanasan global akibat emisi karbon dioksida industri. Fenomena ini diperkirakan akan menyebabkan perubahan seperti mencairnya
gletser dan lapisan es, suhu menjadi lebih ekstrem, perubahan cuaca, dan
naiknya permukaan laut.
[137]
Persebaran manusia
Bumi di malam hari pada tahun 2000, yang menggabungkan data iluminasi dari
DMSP/OLS. Terlihat lampu-lampu kota bersinar di berbagai benua.
Kartografi, atau ilmu dan praktik pembuatan
peta, serta cabang
geografi terapan lainnya, secara historis telah menjadi disiplin ilmu yang bertujuan untuk menggambarkan Bumi.
Survei (penentuan lokasi dan jarak) dan
navigasi
(penentuan posisi dan arah) berkembang sejalan dengan kartografi dan
geografi, yang mampu menyediakan dan mengukur kesesuaian informasi yang
diperlukan mengenai Bumi.
Penduduk Bumi telah mencapai angka 7 miliar pada tanggal 31 Oktober 2011.
[139] Populasi manusia global diperkirakan akan mencapai 9,2 miliar pada tahun 2050.
[140] Pertumbuhan penduduk ini diperkirakan terjadi di
negara berkembang.
Kepadatan penduduk sangat beragam di seluruh dunia, dengan sebagian besar penduduk dunia berada di
Asia. Pada tahun 2020, 60% penduduk dunia diperkirakan tinggal di kawasan
perkotaan, bukannya di
perdesaan.
[141]
Dari keseluruhan permukaan Bumi, hanya seperdelapan yang bisa dihuni
oleh manusia, sedangkan tiga perempatnya diselimuti oleh lautan, dan
selebihnya merupakan wilayah gurun (14%),
[142] pegunungan tinggi (27%),
[143] dan relief lainnya yang tidak layak huni. Permukiman permanen paling utara di Bumi adalah
Alert di
Nunavut, Kanada (82°28′LU).
[144] Sedangkan permukiman yang terletak paling selatan adalah
Stasiun Kutub Selatan Amundsen-Scott di
Antarktika (90°LS).
Negara berdaulat merdeka menguasai seluruh permukaan darat Bumi, kecuali beberapa wilayah di Antarktika dan
wilayah tanpa klaim Bir Tawil di perbatasan Mesir dan Sudan. Hingga tahun 2013, terdapat
206 negara berdaulat, termasuk 193
negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Selain itu, terdapat 59
wilayah dependensi, dan sejumlah
wilayah otonom,
wilayah yang dipersengketakan, dan entitas lainnya.
[14] Sepanjang sejarahnya, Bumi tidak pernah memiliki pemerintahan
berdaulat yang memiliki kewenangan atas seluruh dunia, meskipun beberapa negara berupaya untuk
mendominasi dunia dan gagal.
[145]
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah sebuah
organisasi antarpemerintah
di seluruh dunia yang bertujuan untuk menjadi penengah dalam
persengketaan antarnegara, sehingga terhindar dari konflik bersenjata.
[146] PBB terutama sekali berfungsi sebagai forum bagi diplomasi internasional dan
hukum internasional. Ketika konsensus keanggotaan memperbolehkan, maka akan disepakati mekanisme untuk melakukan intervensi militer.
[147]
Foto pertama Bumi yang dipotret oleh astronot dari
Apollo 8.
Manusia pertama yang mengorbit Bumi adalah
Yuri Gagarin pada tanggal 12 April 1961.
[148] Secara keseluruhan, hingga 30 Juli 2010, sekitar 487 orang telah mengunjungi
luar angkasa dan mencapai orbit Bumi, dan
dua belas di antaranya telah menginjakkan kaki di permukaan Bulan.
[149][150][151] Keberadaan manusia di luar angkasa hanya terdapat di
Stasiun Luar Angkasa Internasional. Awak stasiun, saat ini berjumlah enam orang, akan diganti setiap enam bulan sekali.
[152] Perjalanan terjauh yang dilakukan oleh manusia dari Bumi adalah sejauh 400.171 km, yang ditempuh dalam misi
Apollo 13 pada tahun 1970.
[153]
Sudut pandang sejarah dan budaya
Simbol astronomi standar Bumi berbentuk palang yang dikelilingi oleh sebuah lingkaran.
[154]
Tidak seperti planet lainnya di Tata Surya, sebelum abad ke-16,
manusia tidak menganggap Bumi sebagai objek bergerak yang mengelilingi
Matahari pada orbitnya.
[155] Bumi seringkali diumpamakan sebagai dewa atau dewi. Dalam banyak budaya,
dewi semesta juga dilambangkan sebagai
dewa kesuburan.
Mitos penciptaan dalam sudut pandang berbagai agama menjelaskan bahwa Bumi diciptakan oleh Tuhan atau dewa. Sejumlah agama, terutama
kaum fundamental Protestan
[156] atau Islam,
[157] menyatakan bahwa kisah penciptaan Bumi dan asal usul kehidupan dalam
kitab suci adalah
kebenaran hakiki dan harus dipertimbangkan untuk menggantikan teori ilmiah .
[158] Pernyataan tersebut ditentang oleh kalangan ilmiah
[159][160] dan oleh kelompok keagamaan lainnya.
[161][162][163] Perdebatan yang cukup menonjol adalah
kontroversi penciptaan evolusi.
Pada masa lalu, terdapat anggapan yang meyakini bahwa
Bumi itu datar,
[164] namun anggapan ini digantikan oleh
Bumi bulat, konsep yang diperkenalkan oleh
Pythagoras (abad ke-6 SM).
[165] Kebudayaan manusia telah mengembangkan berbagai pandangan mengenai Bumi, termasuk
perumpamaan sebagai dewa planet, bentuknya yang datar, posisinya sebagai
pusat alam semesta, dan
Prinsip Gaia pada zaman modern, yang menyatakan bahwa Bumi adalah organisme tunggal yang mampu mengatur dirinya sendiri.
Kronologi
Pembentukan
Lukisan mengenai kelahiran Tata Surya.
Material paling awal yang ditemukan di Tata Surya berusia
4,5672±0,0006 miliar tahun.
[166] Dengan demikian, Bumi diperkirakan terbentuk akibat
akresi yang terjadi pada masa itu. Sekitar
4,54±0,04 miliar tahun yang lalu,
[24] Bumi primordial diperkirakan telah terbentuk.
Pembentukan dan evolusi Tata Surya terjadi bersamaan dengan Matahari. Secara teori,
nebula surya memisahkan volume
awan molekul akibat keruntuhan gravitasi, yang mulai berputar dan berpencar di
cakram sirkumstelar, dan kemudian planet-planet terbentuk bersamaan dengan bintang. Nebula mengandung gas, serat es, dan
debu (termasuk
nuklida primordial). Menurut
teori nebula,
planetesimal mulai terbentuk sebagai
partikulat akibat
penggumpalan kohesif dan gravitasi. Proses pembentukan Bumi primordial terus berlanjut selama 10–
20 juta tahun kemudian.
[167] Bulan terbentuk tak lama sesudah pembentukan Bumi, sekitar
4,53 miliar tahun yang lalu.
[168]
Pembentukan
Bulan masih diperdebatkan oleh para ilmuwan. Hipotesis yang disepakati menjelaskan bahwa Bulan terbentuk akibat
akresi materi yang terlepas dari Bumi setelah objek seukuran Mars bernama
Theia bertubrukan dengan Bumi.
[169] Meskipun demikian, hipotesis ini dianggap tidak konsisten. Menurut hipotesis ini, massa Theia adalah 10% dari massa Bumi,
[170] yang bertubrukan dengan Bumi dalam tabrakan sekilas,
[171] dan sebagian massa Theia menyatu dengan Bumi. Sekitar 3,8 dan 4,1 miliar tahun yang lalu, hantaman sejumlah besar
asteroid menyebabkan perubahan besar pada lingkungan permukaan Bulan yang berlubang-lubang dan lebih besar dari permukaan Bumi.
Sejarah geologi
Lautan dan atmosfer Bumi terbentuk akibat aktivitas
vulkanis dan
pelepasan gas, termasuk
uap air.
Lautan terbentuk karena proses kondensasi yang dipadukan dengan penambahan es dan air yang dibawa oleh
asteroid,
protoplanet, dan
komet.
[172] Menurut
hipotesis saat ini, "
gas rumah kaca" atmosferik menjaga agar lautan tidak membeku saat Matahari hanya memiliki tingkat
luminositas sebesar 70%.
[173] 3,5 miliar tahun yang lalu, medan magnet Bumi terbentuk, yang melindungi atmosfer dari serangan
angin surya.
[174] Kerak terbentuk saat lapisan luar Bumi yang cair
berubah bentuk menjadi padat akibat pendinginan setelah uap air mulai terkumpul di atmosfer. Hipotesis lainnya
[175] menjelaskan bahwa massa daratan telah stabil seperti saat ini,
[176] atau mengalami pertumbuhan yang cepat
[177] pada awal
sejarah Bumi,
[178] yang diikuti oleh penstabilan wilayah benua dalam jangka panjang.
[179][180][181] Benua terbentuk akibat
tektonik lempeng, proses yang secara berkelanjutan menyebabkan berkurangnya panas pada interior Bumi. Dalam
skala waktu
yang berlangsung selama ratusan juta tahun, superbenua telah terbentuk
dan terbelah sebanyak tiga kali. Sekitar 750 juta tahun yang lalu, salah
satu superbenua paling awal yang diketahui,
Rodinia, mulai terpisah. Benua yang terpisah kemudian membentuk
Pannotia (600-540 juta tahun yang lalu) dan
Pangaea, yang juga terpecah pada 180 juta tahun yang lalu.
[182]
Periode
zaman es dimulai sekitar 40 juta tahun yang lalu, dan kemudian meluas pada masa
Pleistosen sekitar 3 juta tahun yang lalu. Wilayah yang terletak pada
lintang
tinggi telah mengalami siklus glasiasi dan pencairan es berkali-kali,
yang berulang setiap 40-100.000 tahun. Glasiasi benua terakhir terjadi
10.000 tahun yang lalu
[183]
Masa depan
Perkiraan mengenai berapa lama lagi Bumi sanggup menopang kehidupan
berkisar dari 500 juta tahun hingga 2,3 miliar tahun dari sekarang.
[184][185][186] Masa depan Bumi berkaitan erat dengan Matahari. Akibat penumpukan
helium di inti Matahari,
luminositas total Matahari
akan meningkat secara perlahan. Luminositas Matahari akan meningkat
sebesar 10% dalam waktu 1,1 miliar tahun ke depan dan 40% dalam waktu
3,5 miliar tahun.
[187] Peningkatan
radiasi yang mencapai Bumi cenderung memiliki dampak yang mengerikan, termasuk menghilangnya lautan di planet ini.
[188]
Meningkatnya suhu di permukaan Bumi akan mempercepat
siklus CO2 anorganik, mengurangi konsentrasi yang akan menyebabkan kematian tanaman di Bumi (10 ppm untuk
fotosintesis C4), yang diperkirakan terjadi pada 500-900 juta tahun ke depan.
[184] Kurangnya vegetasi akan menyebabkan ketiadaan oksigen di atmosfer, sehingga hewan akan
punah dalam beberapa juta tahun lagi.
[189] Miliaran tahun kemudian, semua air di permukaan Bumi akan habis
[185] dan suhu global akan mencapai
70 °C (
158 °F).
[189] Bumi diperkirakan efektif untuk dihuni dalam waktu 500 juta tahun dari sekarang,
[184] namun jangka huni ini mungkin bisa diperpanjang hingga 2,3 miliar tahun jika
nitrogen di atmosfer habis.
[186] Bahkan jika Matahari tetap ada dan stabil, 27% air di samudra akan turun ke
mantel Bumi dalam waktu satu miliar tahun lagi akibat berkurangnya ventilasi uap di
punggung tengah samudra.
[190]
Matahari akan
berevolusi menjadi
raksasa merah
sekitar 5 miliar tahun lagi. Radius Matahari diperkirakan akan lebih
luas 250 kali dari radius sekarang, atau sekitar 1 AU (150,000,000 km).
[187][191]
Sedangkan nasib Bumi masih belum jelas. Sebagai raksasa merah, Matahari
akan kehilangan massa sekitar 30%. Akibatnya, tidak ada efek pasang
surut, dan orbit Bumi akan berpindah 1.7 AU (250,000,000 km) dari
Matahari saat bintang raksasa tersebut mencapai radius maksimum. Bumi
diperkirakan akan melindungi dirinya dengan cara memperluas atmosfer
luarnya. Meskipun demikian, kehidupan di Bumi tetap akan punah akibat
meningkatnya tingkat luminositas Matahari (dengan tingkat luminositas
5.000 kali lebih besar dari sekarang).
[187] Penelitian pada tahun 2008 menunjukkan bahwa orbit Bumi akan rusak karena
efek pasang surut dan daya tarik Matahari, sehingga Bumi akan memasuki atmosfer Matahari dan menguap akibat panas.
[191] Setelah peristiwa ini terjadi, inti Matahari akan luruh menjadi
katai putih dan lapisan luarnya dimuntahkan ke angkasa menjadi
nebula planet.
Materi Bumi di dalam Matahari akan dilepaskan ke angkasa antarbintang,
yang di kemudian hari mungkin akan membentuk planet generasi baru dan
benda langit lainnya.
Bulan

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Bulan
Karakteristik
| Diameter |
3.474,8 km |
| Massa |
7,349×1022 kg |
| Sumbu semimayor |
384.400 km |
| Periode orbit |
27 d 7 h 43,7 m |
Bulan adalah
satelit mirip planet besar dengan sifat
kebumian,
yang berdiameter sekitar seperempat dari diameter Bumi dan merupakan
satelit alami terbesar dalam Tata Surya menurut ukuran relatif planet,
meskipun
Charon lebih besar untuk ukuran
planet katai Pluto. Satelit alami yang mengorbit planet lainnya juga dinamakan "bulan", sesuai dengan nama satelit Bumi.
Daya tarik
gravitasi antara Bumi dengan Bulan menyebabkan terjadinya
pasang surut di Bumi, sedangkan Bulan mengalami
penguncian pasang surut
akibat fenomena yang sama; periode rotasinya sama dengan waktu yang
dibutuhkan untuk mengorbit Bumi. Oleh sebab itu, Bulan selalu
memperlihatkan sisi yang sama ke Bumi. Karena Bulan mengorbit Bumi, sisi
Bulan yang menghadap Bumi disinari oleh Matahari, yang menyebabkan
terjadinya
fase bulan; sisi Bulan yang gelap tidak menerima cahaya karena terhalang oleh
terminator surya.
Karena interaksi
pasang surut
antara Bulan dan Bumi, Bulan surut dari Bumi dengan jarak sekitar 38 mm
per tahun. Selama jutaan tahun terakhir, fenomena ini telah menyebabkan
perubahan besar pada lama hari di Bumi.
[192] Pada era
Devonian
(sekitar 410 juta tahun yang lalu), satu hari berlangsung selama 21,8
jam. Selain itu, lama hari di Bumi juga meningkat kurang lebih 23
ยตs per tahun.
[193]
Bulan diperkirakan telah memengaruhi perkembangan kehidupan dengan cara memoderasi iklim di Bumi. Bukti
paleontologi dan simulasi komputer menunjukkan bahwa
kemiringan sumbu Bumi distabilkan oleh interaksi pasang surut dengan Bulan.
[194] Beberapa pakar meyakini bahwa tanpa penstabilan
torsi
yang dilakukan oleh Matahari dan planet lainnya terhadap tonjolan
khatulistiwa Bumi, sumbu rotasi mungkin akan kacau dan tidak stabil
selama jutaan tahun, seperti yang terjadi pada
Mars.
[195]
Jika dilihat dari Bumi, ukuran Bulan tampaknya tidak lebih besar dari ukuran Matahari.
Diameter sudut (atau
sudut padat)
kedua objek ini sama karena perbedaan jarak antara Matahari dan Bulan
dari Bumi; meskipun diameter Matahari 400 kali lebih besar dari diameter
Bulan, jarak antara keduanya juga 400 kali lebih jauh.
[111] Hal ini menyebabkan terjadinya
gerhana matahari total dan cincin di Bumi.
Teori mengenai asal usul Bulan yang paling diterima secara luas, yakni
teori tubrukan besar, menjelaskan bahwa Bulan terbentuk akibat pelepasan materi yang terjadi setelah tubrukan antara
protoplanet seukuran Mars bernama
Theia
dengan Bumi. Hipotesis ini antara lain menjelaskan bahwa komposisi
Bulan hampir identik dengan kerak Bumi karena terdapatnya kandungan besi
dan volatil dalam jumlah kecil di Bulan.
[196]
Skala perbandingan relatif ukuran dan jarak rata-rata antara Bulan dan Bumi.
Asteroid dan satelit buatan
Bumi setidaknya memiliki lima
asteroid orbital, termasuk
3753 Cruithne dan
2002 AA29.
[197][198] Sebuah
asteroid troya pendamping bernama
2010 TK7 menyeimbangkan diri di
segitiga Lagrange, L4, pada
orbit Bumi mengelilingi
Matahari.
[199][200]
Hingga tahun 2011, terdapat 931 satelit operasional buatan manusia yang mengorbit Bumi.
[201] Selain itu, terdapat banyak satelit bekas pakai tidak berfungsi dan lebih dari 300.000 kepingan
sampah angkasa. Satelit buatan terbesar Bumi adalah
Stasiun Luar Angkasa Internasional.
[200]
Perbandingan
|
|
Letak Bumi dalam skala logaritma dari kiri ke kanan.
|
|
Lihat juga
Catatan
- ^ Oleh Persatuan Astronomi Internasional, istilah terra hanya digunakan untuk menamai benda langit dengan massa luas selain Bumi. Cf. Blue, Jennifer (2007-07-05). "Descriptor Terms (Feature Types)". Gazetteer of Planetary Nomenclature. USGS. Diakses tanggal 2007-07-05.
- ^ Semua penjumlahan astronomi bervariasi, baik sekuler dan periodik. Jumlah yang dinyatakan adalah J2000.0 menurut perhitungan sekuler, yang mengabaikan semua perhitungan periodik.
- ^ a b aphelion = a × (1 + e); perihelion = a × (1 – e), dengan a adalah sumbu semimayor dan e adalah eksentrisitas. Perbedaan antara perihelion dan aphelion Bumi adalah 5 kilometer (akurat untuk lima angka signifikan).
- ^ Referensi
mencantumkan bujur node menaik adalah −11.26064°, yang setara dengan
348.73936°, dengan catatan setiap sudut sama, ditambah 360°.
- ^ Referensi mencantumkan bujur perihelion, penjumlahan dari bujur node menaik dan argumen perihelion, yang besarnya 114.20783° + (−11.26064°) = 102.94719°.
- ^ Karena fluktuasi alami, ambiguitas di sekitar lapisan es dan konvensi pemetaan untuk datum vertikal yang menghitung nilai pasti jumkah cakupan lautan dan daratan tidak berarti. Berdasarkan data dari Peta Vektor dan Global Landcover, nilai ekstrem cakupan danau dan sungai adalah 0,6% dan 1,0% dari permukaan Bumi. Ladang es Antarktika dan Greenland dihitung sebagai daratan, meskipun sebagian besar batuan yang menopang kedua wilayah tersebut terletak di bawah permukaan laut.
- ^ Hari matahari lebih pendek dari hari sideris karena pergerakan orbit Bumi mengelilingi Matahari menyebabkan bertambahnya satu putaran planet pada sumbunya.
- ^ Bervariasi antara 5 dan 200 km.
- ^ Bervariasi antara 5 dan 70 km.
- ^ Termasuk Lempeng Somalia, yang saat ini sedang dalam proses pembentukan dari Lempeng Afrika. Lihat: Chorowicz, Jean (October 2005). "The East African rift system". Journal of African Earth Sciences 43 (1–3): 379–410. Bibcode:2005JAfES..43..379C. doi:10.1016/j.jafrearsci.2005.07.019.
- ^ Ini adalah pengukuran yang dilakukan oleh kapal Kaikล pada bulan Maret 1995 dan diyakini merupakan pengukuran paling akurat hingga saat ini. Lihat Challenger Deep untuk penjelasan yang lebih rinci.
- ^ Luas total permukaan Bumi adalah 5,1×108 km2. To first approximation, the average depth would be the ratio of the two, or 2.7 km.
- ^ Aoki,
sumber utama dari angka-angka ini, menggunakan istilah "detik dari
UT1", bukannya "detik dari waktu matahari rata-rata". – Seidelmann,
S.; Kinoshita, H.; Guinot, B.; Kaplan, G. H.; McCarthy, D. D.;
Seidelmann, P. K. (1982). "The new definition of universal time". Astronomy and Astrophysics 105 (2): 359–361. Bibcode:1982A&A...105..359A.
- ^ Untuk Bumi, radius Bukit adalah
, dengan m adalah massa Bumi, a adalah Satuan Astronomi (AU), dan M massa Matahari. Jadi, radiusnya dalam AU adalah
.
- ^ Aphelion
adalah 103,4% dari jarak ke perihelion. Karena hukum kuadrat terbalik,
radiasi di perihelion adalah sekitar 106,9% energi di aphelion.
Referensi
- ^ a b Standish, E. Myles; Williams, James C. "Orbital Ephemerides of the Sun, Moon, and Planets" (PDF). International Astronomical Union Commission 4: (Ephemerides). Diakses tanggal 2010-04-03. See table 8.10.2. Calculation based upon 1 AU = 149,597,870,700(3) m.
- ^ a b c d Staff (2007-08-07). "Useful Constants". International Earth Rotation and Reference Systems Service. Diakses tanggal 2008-09-23.
- ^ a b c d e f g h i j k l m Williams, David R. (2004-09-01). "Earth Fact Sheet". NASA. Diakses tanggal 2010-08-09.
- ^ Allen, Clabon Walter; Cox, Arthur N. (2000). Allen's Astrophysical Quantities. Springer. p. 294. ISBN 0-387-98746-0. Diakses tanggal 2011-03-13.
- ^ US Space Command (March 1, 2001). "Reentry Assessment – US Space Command Fact Sheet". SpaceRef Interactive. Diakses tanggal 2011-05-07.
- ^ Various (2000). David R. Lide, ed. Handbook of Chemistry and Physics (81st ed.). CRC. ISBN 0-8493-0481-4.
- ^ "Selected Astronomical Constants, 2011". The Astronomical Almanac. Diakses tanggal 2011-02-25.
- ^ a b World Geodetic System (WGS-84). Available online from National Geospatial-Intelligence Agency.
- ^ Cazenave, Anny (1995). "Geoid, Topography and Distribution of Landforms". Di Ahrens, Thomas J. Global earth physics a handbook of physical constants (PDF). Washington, DC: American Geophysical Union. ISBN 0-87590-851-9. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2006-10-16. Diakses tanggal 2008-08-03.
- ^ IERS Working Groups (2003). "General Definitions and Numerical Standards". McCarthy, Dennis D.; Petit, Gรฉrard IERS Technical Note No. 32, U.S. Naval Observatory and Bureau International des Poids et Mesures. Diakses pada 2008-08-03.
- ^ Humerfelt, Sigurd (October 26, 2010). "How WGS 84 defines Earth". Diakses tanggal 2011-04-29.
- ^ Keliling Bumi (hampir) tepat 40.000 km karena meter
dikalibrasi berdasarkan ketepatannnya pada pengukuran ini – lebih
khusus, 1/10 kesejuta dari jarak antara kutub dan khatulistiwa.
- ^ a b Pidwirny, Michael (2006-02-02). "Surface area of our planet covered by oceans and continents.(Table 8o-1)". University of British Columbia, Okanagan. Diakses tanggal 2007-11-26.
- ^ a b c d Staff (2008-07-24). "World". The World Factbook. Central Intelligence Agency. Diakses tanggal 2008-08-05.
- ^ "Solar System Exploration: Earth: Facts & Figures". NASA. 13 Dec 2012. Diakses tanggal 2012-01-22.
- ^ Yoder, Charles F. (1995). T. J. Ahrens, ed. Global Earth Physics: A Handbook of Physical Constants. Washington: American Geophysical Union. p. 12. ISBN 0-87590-851-9. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-03-08. Diakses tanggal 2007-03-17.
- ^ Allen, Clabon Walter; Cox, Arthur N. (2000). Allen's Astrophysical Quantities. Springer. p. 296. ISBN 0-387-98746-0. Diakses tanggal 2010-08-17.
- ^ Arthur N. Cox, ed. (2000). Allen's Astrophysical Quantities (4th ed.). New York: AIP Press. p. 244. ISBN 0-387-98746-0. Diakses tanggal 2010-08-17.
- ^ "World: Lowest Temperature". WMO Weather and Climate Extremes Archive. Arizona State University. Diakses tanggal 2010-08-07.
- ^ Kinver, Mark (December 10, 2009). "Global average temperature may hit record level in 2010". BBC Online. Diakses tanggal 2010-04-22.
- ^ "World: Highest Temperature". WMO Weather and Climate Extremes Archive. Arizona State University. Diakses tanggal 2010-08-07.
- ^ National Oceanic & Atmospheric Administration (NOAA) – Earth System Research Laboratory (ESRL), Trends in Carbon Dioxide.
- ^ Drinkwater, Mark; Kerr, Yann; Font, Jordi; Berger, Michael (February 2009). "Exploring the Water Cycle of the 'Blue Planet': The Soil Moisture and Ocean Salinity (SMOS) mission" (PDF). ESA Bulletin (European Space Agency) (137): 6–15.
A
view of Earth, the 'Blue Planet'... When astronauts first went into the
space, they looked back at our Earth for the first time, and called our
home the 'Blue Planet'.
- ^ a b Lihat:
- ^ Harrison, Roy M.; Hester, Ronald E. (2002). Causes and Environmental Implications of Increased UV-B Radiation. Royal Society of Chemistry. ISBN 0-85404-265-2.
- ^ "NOAA – Ocean". Noaa.gov. Diakses tanggal 2013-05-03.
- ^ Yoder, Charles F. (1995). T. J. Ahrens, ed. Global Earth Physics: A Handbook of Physical Constants. Washington: American Geophysical Union. p. 8. ISBN 0-87590-851-9. Diakses tanggal 2007-03-17.
- ^ May, Robert M. (1988). "How many species are there on earth?". Science 241 (4872): 1441–1449. Bibcode:1988Sci...241.1441M. doi:10.1126/science.241.4872.1441. PMID 17790039.
- ^ United States Census Bureau (2 November 2011). "World POP Clock Projection". United States Census Bureau International Database. Diakses tanggal 2011-11-02.
- ^ Barnhart, Robert K.
(1995). Originally. from a Semitic (Arabic/Hebrew) root: ุฃุฑุถ| aarth-or,
ืืจืฅ aerets (Hebrew) is the word for land, country and Earth. As per
later Germanic roots, the Barnhart Concise Dictionary of Etymology,
pages 228–229. HarperCollins. ISBN 0-06-270084-7
- ^ Simek, Rudolf (2007) translated by Angela Hall. Dictionary of Northern Mythology, page 179. D.S. Brewer ISBN 0-85991-513-1
- ^ Lihat definisi kata "bumi" di KBBI.
- ^ Stern, David P. (2001-11-25). "Planetary Magnetism". NASA. Diakses tanggal 2007-04-01.
- ^ Tackley, Paul J. (2000-06-16). "Mantle Convection and Plate Tectonics: Toward an Integrated Physical and Chemical Theory". Science 288 (5473): 2002–2007. Bibcode:2000Sci...288.2002T. doi:10.1126/science.288.5473.2002. PMID 10856206.
- ^ Milbert, D. G.; Smith, D. A. "Converting GPS Height into NAVD88 Elevation with the GEOID96 Geoid Height Model". National Geodetic Survey, NOAA. Diakses tanggal 2007-03-07.
- ^ a b Sandwell, D. T.; Smith, W. H. F. (2006-07-07). "Exploring the Ocean Basins with Satellite Altimeter Data". NOAA/NGDC. Diakses tanggal 2007-04-21.
- ^ The 'Highest' Spot on Earth? NPR.org Consultado el 25-07-2010
- ^ Mohr, P. J.; Taylor, B. N. (October 2000). "Unit of length (meter)". NIST Reference on Constants, Units, and Uncertainty. NIST Physics Laboratory. Diakses tanggal 2007-04-23.
- ^ Staff (November 2001). "WPA Tournament Table & Equipment Specifications". World Pool-Billiards Association. Diakses tanggal 2007-03-10.
- ^ Senne, Joseph H. (2000). "Did Edmund Hillary Climb the Wrong Mountain". Professional Surveyor 20 (5): 16–21.
- ^ Sharp, David (2005-03-05). "Chimborazo and the old kilogram". The Lancet 365 (9462): 831–832. doi:10.1016/S0140-6736(05)71021-7. PMID 15752514.
- ^ "Tall Tales about Highest Peaks". Australian Broadcasting Corporation. Diakses tanggal 2008-12-29.
- ^ Brown, Geoff C.; Mussett, Alan E. (1981). The Inaccessible Earth (2nd ed.). Taylor & Francis. p. 166. ISBN 0-04-550028-2. Note: After Ronov and Yaroshevsky (1969).
- ^ Morgan, J. W.; Anders, E. (1980). "Chemical composition of Earth, Venus, and Mercury". Proceedings of the National Academy of Sciences 77 (12): 6973–6977. Bibcode:1980PNAS...77.6973M. doi:10.1073/pnas.77.12.6973. PMC 350422. PMID 16592930.
- ^
Satu atau lebih kalimat yang terdahulu ini menyertakan teks dari suatu terbitan yang sekarang berada pada ranah publik: Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Petrology". Encyclopรฆdia Britannica (11th ed.). Cambridge University Press.
- ^ Tanimoto, Toshiro (1995). Thomas J. Ahrens, ed. Crustal Structure of the Earth (PDF). Washington, DC: American Geophysical Union. ISBN 0-87590-851-9. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2006-10-16. Diakses tanggal 2007-02-03.
- ^ Kerr, Richard A. (2005-09-26). "Earth's Inner Core Is Running a Tad Faster Than the Rest of the Planet". Science 309 (5739): 1313. doi:10.1126/science.309.5739.1313a. PMID 16123276.
- ^ Jordan, T. H. (1979). "Structural geology of the Earth's interior". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 76 (9): 4192–4200. Bibcode:1979PNAS...76.4192J. doi:10.1073/pnas.76.9.4192. PMC 411539. PMID 16592703.
- ^ Robertson, Eugene C. (2001-07-26). "The Interior of the Earth". USGS. Diakses tanggal 2007-03-24.
- ^ a b Turcotte, D. L.; Schubert, G. (2002). "4". Geodynamics (2 ed.). Cambridge, England, UK: Cambridge University Press. pp. 136–137. ISBN 978-0-521-66624-4.
- ^ Sanders, Robert (2003-12-10). "Radioactive potassium may be major heat source in Earth's core". UC Berkeley News. Diakses tanggal 2007-02-28.
- ^ http://www.esrf.eu/news/general/Earth-Center-Hotter/Earth-Centre-Hotter
- ^ Alfรจ, D.; Gillan, M. J.; Vocadlo, L.; Brodholt, J.; Price, G. D. (2002). "The ab initio simulation of the Earth's core" (PDF). Philosophical Transactions of the Royal Society 360 (1795): 1227–1244. Bibcode:2002RSPTA.360.1227A. doi:10.1098/rsta.2002.0992. Diakses tanggal 2007-02-28.
- ^ Vlaar, N; Vankeken, P.; Vandenberg, A. (1994). "Cooling of the Earth in the Archaean: Consequences of pressure-release melting in a hotter mantle" (PDF). Earth and Planetary Science Letters 121 (1–2): 1. Bibcode:1994E&PSL.121....1V. doi:10.1016/0012-821X(94)90028-0.
- ^ Turcotte, D. L.; Schubert, G. (2002). "4". Geodynamics (2 ed.). Cambridge, England, UK: Cambridge University Press. p. 137. ISBN 978-0-521-66624-4.
- ^ Pollack, Henry N.; Hurter, Suzanne J.; Johnson, Jeffrey R. (August 1993). "Heat flow from the Earth's interior: Analysis of the global data set". Reviews of Geophysics 31 (3): 267–280. Bibcode:1993RvGeo..31..267P. doi:10.1029/93RG01249.
- ^ Richards, M. A.; Duncan, R. A.; Courtillot, V. E. (1989). "Flood Basalts and Hot-Spot Tracks: Plume Heads and Tails". Science 246 (4926): 103–107. Bibcode:1989Sci...246..103R. doi:10.1126/science.246.4926.103. PMID 17837768.
- ^ Sclater,
John G; Parsons, Barry; Jaupart, Claude (1981). "Oceans and Continents:
Similarities and Differences in the Mechanisms of Heat Loss". Journal of Geophysical Research 86 (B12): 11535. Bibcode:1981JGR....8611535S. doi:10.1029/JB086iB12p11535.
- ^ Brown, W. K.; Wohletz, K. H. (2005). "SFT and the Earth's Tectonic Plates". Los Alamos National Laboratory. Diakses tanggal 2007-03-02.
- ^ Kious, W. J.; Tilling, R. I. (1999-05-05). "Understanding plate motions". USGS. Diakses tanggal 2007-03-02.
- ^ Seligman, Courtney (2008). "The Structure of the Terrestrial Planets". Online Astronomy eText Table of Contents. cseligman.com. Diakses tanggal 2008-02-28.
- ^ Duennebier, Fred (1999-08-12). "Pacific Plate Motion". University of Hawaii. Diakses tanggal 2007-03-14.
- ^ Mueller, R. D. et al. (2007-03-07). "Age of the Ocean Floor Poster". NOAA. Diakses tanggal 2007-03-14.
- ^ Bowring, Samuel A.; Williams, Ian S. (1999). "Priscoan (4.00–4.03 Ga) orthogneisses from northwestern Canada". Contributions to Mineralogy and Petrology 134 (1): 3. Bibcode:1999CoMP..134....3B. doi:10.1007/s004100050465.
- ^ Meschede, Martin; Barckhausen, Udo (2000-11-20). "Plate Tectonic Evolution of the Cocos-Nazca Spreading Center". Proceedings of the Ocean Drilling Program. Texas A&M University. Diakses tanggal 2007-04-02.
- ^ Staff. "GPS Time Series". NASA JPL. Diakses tanggal 2007-04-02.
- ^ "CIA – The World Factbook". Cia.gov. Diakses tanggal 2012-11-02.
- ^ Kring, David A. "Terrestrial Impact Cratering and Its Environmental Effects". Lunar and Planetary Laboratory. Diakses tanggal 2007-03-22.
- ^ Staff. "Layers of the Earth". Volcano World. Diakses tanggal 2007-03-11.
- ^ Jessey, David. "Weathering and Sedimentary Rocks". Cal Poly Pomona. Diakses tanggal 2007-03-20.
- ^ de Pater, Imke; Lissauer, Jack J. (2010). Planetary Sciences (2nd ed.). Cambridge University Press. p. 154. ISBN 0-521-85371-0.
- ^ Wenk, Hans-Rudolf; Bulakh, Andreฤญ Glebovich (2004). Minerals: their constitution and origin. Cambridge University Press. p. 359. ISBN 0-521-52958-1.
- ^ FAO Staff (1995). FAO Production Yearbook 1994 (Volume 48 ed.). Rome, Italy: Food and Agriculture Organization of the United Nations. ISBN 92-5-003844-5.
- ^ Sverdrup, H. U.; Fleming, Richard H. (1942-01-01). The oceans, their physics, chemistry, and general biology. Scripps Institution of Oceanography Archives. ISBN 0-13-630350-1. Diakses tanggal 2008-06-13.
- ^ Number of countries
- ^ "7,000 m Class Remotely Operated Vehicle KAIKO 7000". Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC). Diakses tanggal 2008-06-07.
- ^ Charette, Matthew A.; Smith, Walter H. F. (June 2010). "The Volume of Earth's Ocean" (PDF). Oceanography 23 (2): 112–114. doi:10.5670/oceanog.2010.51. Diakses tanggal 2013-06-06.
- ^ Shiklomanov, Igor A. (1999). "World Water Resources and their use Beginning of the 21st century Prepared in the Framework of IHP UNESCO". State Hydrological Institute, St. Petersburg. Diakses tanggal 2006-08-10.
- ^ Kennish, Michael J. (2001). Practical handbook of marine science. Marine science series (3rd ed.). CRC Press. p. 35. ISBN 0-8493-2391-6.
- ^ Mullen, Leslie (2002-06-11). "Salt of the Early Earth". NASA Astrobiology Magazine. Diakses tanggal 2007-03-14.
- ^ Morris, Ron M. "Oceanic Processes". NASA Astrobiology Magazine. Diakses tanggal 2007-03-14.
- ^ Scott, Michon (2006-04-24). "Earth's Big heat Bucket". NASA Earth Observatory. Diakses tanggal 2007-03-14.
- ^ Sample, Sharron (2005-06-21). "Sea Surface Temperature". NASA. Diakses tanggal 2007-04-21.
- ^ Geerts, B.; Linacre, E. (November 1997). "The height of the tropopause". Resources in Atmospheric Sciences. University of Wyoming. Diakses tanggal 2006-08-10.
- ^ a b c Zimmer, Carl (3 October 2013). "Earth’s Oxygen: A Mystery Easy to Take for Granted". New York Times. Diakses tanggal 3 October 2013.
- ^ a b Staff (2003-10-08). "Earth's Atmosphere". NASA. Diakses tanggal 2007-03-21.
- ^ Pidwirny, Michael (2006). "Fundamentals of Physical Geography (2nd Edition)". PhysicalGeography.net. Diakses tanggal 2007-03-19.
- ^ a b Moran, Joseph M. (2005). "Weather". World Book Online Reference Center. NASA/World Book, Inc. Diakses tanggal 2007-03-17.
- ^ a b Berger, Wolfgang H. (2002). "The Earth's Climate System". University of California, San Diego. Diakses tanggal 2007-03-24.
- ^ Rahmstorf, Stefan (2003). "The Thermohaline Ocean Circulation". Potsdam Institute for Climate Impact Research. Diakses tanggal 2007-04-21.
- ^ Various (1997-07-21). "The Hydrologic Cycle". University of Illinois. Diakses tanggal 2007-03-24.
- ^ Sadava, David E.; Heller, H. Craig; Orians, Gordon H. (2006). Life, the Science of Biology (8th ed.). MacMillan. p. 1114. ISBN 0-7167-7671-5.
- ^ Staff. "Climate Zones". UK Department for Environment, Food and Rural Affairs. Diakses tanggal 2007-03-24.
- ^ Staff (2004). "Stratosphere and Weather; Discovery of the Stratosphere". Science Week. Diakses tanggal 2007-03-14.
- ^ de Cรณrdoba, S. Sanz Fernรกndez (2004-06-21). "Presentation of the Karman separation line, used as the boundary separating Aeronautics and Astronautics". Fรฉdรฉration Aรฉronautique Internationale. Diakses tanggal 2007-04-21.
- ^ Liu, S. C.; Donahue, T. M. (1974). "The Aeronomy of Hydrogen in the Atmosphere of the Earth". Journal of Atmospheric Sciences 31 (4): 1118–1136. Bibcode:1974JAtS...31.1118L. doi:10.1175/1520-0469(1974)031<1118:TAOHIT>2.0.CO;2.
- ^ Catling, David C.; Zahnle, Kevin J.; McKay, Christopher P. (2001). "Biogenic Methane, Hydrogen Escape, and the Irreversible Oxidation of Early Earth". Science 293 (5531): 839–843. Bibcode:2001Sci...293..839C. doi:10.1126/science.1061976. PMID 11486082.
- ^ Abedon, Stephen T. (1997-03-31). "History of Earth". Ohio State University. Diakses tanggal 2007-03-19.
- ^ Hunten, D. M.; Donahue, T. M (1976). "Hydrogen loss from the terrestrial planets". Annual review of earth and planetary sciences 4 (1): 265–292. Bibcode:1976AREPS...4..265H. doi:10.1146/annurev.ea.04.050176.001405.
- ^ Lang, Kenneth R. (2003). The Cambridge guide to the solar system. Cambridge University Press. p. 92. ISBN 0-521-81306-9.
- ^ Fitzpatrick, Richard (2006-02-16). "MHD dynamo theory". NASA WMAP. Diakses tanggal 2007-02-27.
- ^ Campbell, Wallace Hall (2003). Introduction to Geomagnetic Fields. New York: Cambridge University Press. p. 57. ISBN 0-521-82206-8.
- ^ Stern, David P. (2005-07-08). "Exploration of the Earth's Magnetosphere". NASA. Diakses tanggal 2007-03-21.
- ^ McCarthy, Dennis D.; Hackman, Christine; Nelson, Robert A. (November 2008). "The Physical Basis of the Leap Second". The Astronomical Journal 136 (5): 1906–1908. Bibcode:2008AJ....136.1906M. doi:10.1088/0004-6256/136/5/1906.
- ^ "Leap seconds". Time Service Department, USNO. Diakses tanggal 2008-09-23.
- ^ http://maia.usno.navy.mil/ser7/ser7.dat
- ^ Seidelmann, P. Kenneth (1992). Explanatory Supplement to the Astronomical Almanac. Mill Valley, CA: University Science Books. p. 48. ISBN 0-935702-68-7.
- ^ Staff. "IERS Excess of the duration of the day to 86400s ... since 1623". International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS). Diakses tanggal 2008-09-23.—Graph at end.
- ^ Staff. "IERS Variations in the duration of the day 1962–2005". International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-08-13. Diakses tanggal 2008-09-23.
- ^ Zeilik, M.; Gregory, S. A. (1998). Introductory Astronomy & Astrophysics (4th ed.). Saunders College Publishing. p. 56. ISBN 0-03-006228-4.
- ^ a b Williams, David R. (2006-02-10). "Planetary Fact Sheets". NASA. Diakses tanggal 2008-09-28.—See the apparent diameters on the Sun and Moon pages.
- ^ Williams, David R. (2004-09-01). "Moon Fact Sheet". NASA. Diakses tanggal 2007-03-21.
- ^ Vรกzquez, M.; Rodrรญguez, P. Montaรฑรฉs; Palle, E. (2006). "The Earth as an Object of Astrophysical Interest in the Search for Extrasolar Planets" (PDF). Instituto de Astrofรญsica de Canarias. Diakses tanggal 2007-03-21.
- ^ Astrophysicist team (2005-12-01). "Earth's location in the Milky Way". NASA. Diakses tanggal 2008-06-11.
- ^ Bromberg, Irv (2008-05-01). "The Lengths of the Seasons (on Earth)". University of Toronto. Diakses tanggal 2008-11-08.
- ^ Lin, Haosheng (2006). "Animation of precession of moon orbit". Survey of Astronomy AST110-6. University of Hawaii at Manoa. Diakses tanggal 2010-09-10.
- ^ Fisher, Rick (1996-02-05). "Earth Rotation and Equatorial Coordinates". National Radio Astronomy Observatory. Diakses tanggal 2007-03-21.
- ^ Williams, Jack (2005-12-20). "Earth's tilt creates seasons". USAToday. Diakses tanggal 2007-03-17.
- ^ Staff (September 2003). "Astrobiology Roadmap". NASA, Lockheed Martin. Diakses tanggal 2007-03-10.
- ^ Dole, Stephen H. (1970). Habitable Planets for Man (2nd ed.). American Elsevier Publishing Co. ISBN 0-444-00092-5. Diakses tanggal 2007-03-11.
- ^ Hillebrand, Helmut (2004). "On the Generality of the Latitudinal Gradient". American Naturalist 163 (2): 192–211. doi:10.1086/381004. PMID 14970922.
- ^ Doolittle, W. Ford; Worm, Boris (February 2000). "Uprooting the tree of life" (PDF). Scientific American 282 (6): 90–95. doi:10.1038/scientificamerican0200-90. PMID 10710791.
- ^ Berkner, L. V.; Marshall, L. C. (1965). "On the Origin and Rise of Oxygen Concentration in the Earth's Atmosphere". Journal of Atmospheric Sciences 22 (3): 225–261. Bibcode:1965JAtS...22..225B. doi:10.1175/1520-0469(1965)022<0225:OTOARO>2.0.CO;2.
- ^ Burton, Kathleen (2002-11-29). "Astrobiologists Find Evidence of Early Life on Land". NASA. Diakses tanggal 2007-03-05.
- ^ Yoko Ohtomo, Takeshi Kakegawa, Akizumi Ishida, Toshiro Nagase, Minik T. Rosing (8 December 2013). "Evidence for biogenic graphite in early Archaean Isua metasedimentary rocks". Nature Geoscience. doi:10.1038/ngeo2025. Diakses tanggal 9 Dec 2013.
- ^ Borenstein, Seth (13 November 2013). "Oldest fossil found: Meet your microbial mom". AP News. Diakses tanggal 15 November 2013.
- ^ Noffke, Nora; Christian, Daniel; Wacey, David; Hazen, Robert M. (8 November 2013). "Microbially
Induced Sedimentary Structures Recording an Ancient Ecosystem in the
ca. 3.48 Billion-Year-Old Dresser Formation, Pilbara, Western Australia". Astrobiology (jurnal). doi:10.1089/ast.2013.1030. Diakses tanggal 15 November 2013.
- ^ Kirschvink, J. L. (1992). Schopf, J.W.; Klein, C. and Des Maris, D, ed. Late Proterozoic low-latitude global glaciation: the Snowball Earth. The Proterozoic Biosphere: A Multidisciplinary Study. Cambridge University Press. pp. 51–52. ISBN 0-521-36615-1.
- ^ Raup, D. M.; Sepkoski Jr, J. J. (1982). "Mass Extinctions in the Marine Fossil Record". Science 215 (4539): 1501–1503. Bibcode:1982Sci...215.1501R. doi:10.1126/science.215.4539.1501. PMID 17788674.
- ^ Gould, Stephan J. (October 1994). "The Evolution of Life on Earth". Scientific American 271 (4): 84–91. doi:10.1038/scientificamerican1094-84. PMID 7939569. Diakses tanggal 2007-03-05.
- ^ Wilkinson, B. H.; McElroy, B. J. (2007). "The impact of humans on continental erosion and sedimentation". Bulletin of the Geological Society of America 119 (1–2): 140–156. Bibcode:2007GSAB..119..140W. doi:10.1130/B25899.1. Diakses tanggal 2007-04-22.
- ^ Lambina, Eric F.; Meyfroidt, Patrick (March 1, 2011). "Global land use change, economic globalization, and the looming land scarcity" (PDF). Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (National Academy of Sciences) 108 (9): 3465–3472. Bibcode:2011PNAS..108.3465L. doi:10.1073/pnas.1100480108. Diakses tanggal 2013-04-2013. See Table 1.
- ^ Staff (2006-11-24). "Mineral Genesis: How do minerals form?". Non-vertebrate Paleontology Laboratory, Texas Memorial Museum. Diakses tanggal 2007-04-01.
- ^ Rona, Peter A. (2003). "Resources of the Sea Floor". Science 299 (5607): 673–674. doi:10.1126/science.1080679. PMID 12560541. Diakses tanggal 2007-02-04.
- ^ Turner, B. L., II (1990). The Earth As Transformed by Human Action: Global And Regional Changes in the Biosphere Over the Past 300 Years. CUP Archive. p. 164. ISBN 0521363578.
- ^ Walsh, Patrick J. (1997-05-16). Sharon L. Smith, Lora E. Fleming, ed. Oceans and human health: risks and remedies from the seas. Academic Press, 2008. p. 212. ISBN 0-12-372584-4.
- ^ Staff (2007-02-02). "Evidence is now 'unequivocal' that humans are causing global warming – UN report". United Nations. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 December 2008. Diakses tanggal 2007-03-07.
- ^ World, National Geographic – Xpeditions Atlas. 2006. Washington, DC: National Geographic Society.
- ^ "Various '7 billionth' babies celebrated worldwide". Diakses tanggal 2011-10-31.
- ^ Staff. "World Population Prospects: The 2006 Revision". United Nations. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 September 2009. Diakses tanggal 2007-03-07.
- ^ Staff (2007). "Human Population: Fundamentals of Growth: Growth". Population Reference Bureau. Diakses tanggal 2007-03-31.
- ^ Peel, M. C.; Finlayson, B. L.; McMahon, T. A. (2007). "Updated world map of the Kรถppen-Geiger climate classification". Hydrology and Earth System Sciences Discussions 4 (2): 439–473. doi:10.5194/hessd-4-439-2007. Diakses tanggal 2007-03-31.
- ^ Staff. "Themes & Issues". Secretariat of the Convention on Biological Diversity. Diakses tanggal 2007-03-29.
- ^ Staff (2006-08-15). "Canadian Forces Station (CFS) Alert". Information Management Group. Diakses tanggal 2007-03-31.
- ^ Kennedy, Paul (1989). The Rise and Fall of the Great Powers (1st ed.). Vintage. ISBN 0-679-72019-7.
- ^ "U.N. Charter Index". United Nations. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 February 2009. Diakses tanggal 2008-12-23.
- ^ Staff. "International Law". United Nations. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 December 2009. Diakses tanggal 2007-03-27.
- ^ Kuhn, Betsy (2006). The race for space: the United States and the Soviet Union compete for the new frontier. Twenty-First Century Books. p. 34. ISBN 0-8225-5984-6.
- ^ Ellis, Lee (2004). Who's who of NASA Astronauts. Americana Group Publishing. ISBN 0-9667961-4-4.
- ^ Shayler, David; Vis, Bert (2005). Russia's Cosmonauts: Inside the Yuri Gagarin Training Center. Birkhรคuser. ISBN 0-387-21894-7.
- ^ Wade, Mark (2008-06-30). "Astronaut Statistics". Encyclopedia Astronautica. Diakses tanggal 2008-12-23.
- ^ "Reference Guide to the International Space Station". NASA. 2007-01-16. Diakses tanggal 2008-12-23.
- ^ Cramb, Auslan (2007-10-28). "Nasa's Discovery extends space station". Telegraph. Diakses tanggal 2009-03-23.
- ^ Liungman, Carl G. (2004). "Group 29: Multi-axes symmetric, both soft and straight-lined, closed signs with crossing lines". Symbols – Encyclopedia of Western Signs and Ideograms. New York: Ionfox AB. pp. 281–282. ISBN 91-972705-0-4.
- ^ Arnett, Bill (July 16, 2006). "Earth". The Nine Planets, A Multimedia Tour of the Solar System: one star, eight planets, and more. Diakses tanggal 2010-03-09.
- ^ Dutch, S. I. (2002). "Religion as belief versus religion as fact" (PDF). Journal of Geoscience Education 50 (2): 137–144. Diakses tanggal 2008-04-28.
- ^ Edis, Taner (2003). A World Designed by God: Science and Creationism in Contemporary Islam (PDF). Amherst: Prometheus. ISBN 1-59102-064-6. Diakses tanggal 2008-04-28.
- ^ Ross, M. R. (2005). "Who Believes What? Clearing up Confusion over Intelligent Design and Young-Earth Creationism" (PDF). Journal of Geoscience Education 53 (3): 319. Diakses tanggal 2008-04-28.
- ^ Pennock, R. T. (2003). "Creationism and intelligent design". Annual Review of Genomics Human Genetics 4 (1): 143–63. doi:10.1146/annurev.genom.4.070802.110400. PMID 14527300.
- ^ National Academy of Sciences, Institute of Medicine (2008). Science, Evolution, and Creationism. Washington, D.C: National Academies Press. ISBN 0-309-10586-2. Diakses tanggal 2011-03-13.
- ^ Colburn,, A.; Henriques, Laura (2006). "Clergy views on evolution, creationism, science, and religion". Journal of Research in Science Teaching 43 (4): 419–442. Bibcode:2006JRScT..43..419C. doi:10.1002/tea.20109.
- ^ Frye, Roland Mushat (1983). Is God a Creationist? The Religious Case Against Creation-Science. Scribner's. ISBN 0-684-17993-8.
- ^ Gould, S. J. (1997). "Nonoverlapping magisteria" (PDF). Natural History 106 (2): 16–22. Diakses tanggal 2008-04-28.
- ^ Russell, Jeffrey B. "The Myth of the Flat Earth". American Scientific Affiliation. Diakses tanggal 2007-03-14.; but see also Cosmas Indicopleustes.
- ^ Jacobs, James Q. (1998-02-01). "Archaeogeodesy, a Key to Prehistory". Diakses tanggal 2007-04-21.
- ^ Bowring, S.; Housh, T. (1995). "The Earth's early evolution". Science 269 (5230): 1535–40. Bibcode:1995Sci...269.1535B. doi:10.1126/science.7667634. PMID 7667634.
- ^ Yin,
Qingzhu; Jacobsen, S. B.; Yamashita, K.; Blichert-Toft, J.; Tรฉlouk, P.;
Albarรจde, F. (2002). "A short timescale for terrestrial planet
formation from Hf-W chronometry of meteorites". Nature 418 (6901): 949–952. Bibcode:2002Natur.418..949Y. doi:10.1038/nature00995. PMID 12198540.
- ^ Kleine,
Thorsten; Palme, Herbert; Mezger, Klaus; Halliday, Alex N.
(2005-11-24). "Hf-W Chronometry of Lunar Metals and the Age and Early
Differentiation of the Moon". Science 310 (5754): 1671–1674. Bibcode:2005Sci...310.1671K. doi:10.1126/science.1118842. PMID 16308422.
- ^ Reilly, Michael (October 22, 2009). "Controversial Moon Origin Theory Rewrites History". Diakses tanggal 2010-01-30.
- ^ (Fall Meeting 2001) "An impact origin of the Earth-Moon system". Abstract #U51A-02, American Geophysical Union.
- ^ Canup, R.; Asphaug, E. (2001). "Origin of the Moon in a giant impact near the end of the Earth's formation". Nature 412 (6848): 708–712. Bibcode:2001Natur.412..708C. doi:10.1038/35089010. PMID 11507633.
- ^ Morbidelli, A. et al. (2000). "Source regions and time scales for the delivery of water to Earth". Meteoritics & Planetary Science 35 (6): 1309–1320. Bibcode:2000M&PS...35.1309M. doi:10.1111/j.1945-5100.2000.tb01518.x.
- ^ "Our
Changing Sun: The Role of Solar Nuclear Evolution and Magnetic Activity
on Earth's Atmosphere and Climate". Benjamin Montesinos, Alvaro Gimenez
and Edward F. Guinan ASP Conference Proceedings: The Evolving Sun and its Influence on Planetary Environments, San Francisco: Astronomical Society of the Pacific.
- ^ Staff (March 4, 2010). "Oldest measurement of Earth's magnetic field reveals battle between Sun and Earth for our atmosphere". Physorg.news. Diakses tanggal 2010-03-27.
- ^ Rogers, John James William; Santosh, M. (2004). Continents and Supercontinents. Oxford University Press US. p. 48. ISBN 0-19-516589-6.
- ^ Hurley, P. M.; Rand, J. R. (Jun 1969). "Pre-drift continental nuclei". Science 164 (3885): 1229–1242. Bibcode:1969Sci...164.1229H. doi:10.1126/science.164.3885.1229. PMID 17772560.
- ^ De
Smet, J.; Van Den Berg, A.P.; Vlaar, N.J. (2000). "Early formation and
long-term stability of continents resulting from decompression melting
in a convecting mantle". Tectonophysics 322 (1–2): 19. Bibcode:2000Tectp.322...19D. doi:10.1016/S0040-1951(00)00055-X.
- ^ Armstrong, R. L. (1968). "A model for the evolution of strontium and lead isotopes in a dynamic earth". Reviews of Geophysics 6 (2): 175–199. Bibcode:1968RvGSP...6..175A. doi:10.1029/RG006i002p00175.
- ^ Harrison, T. et al. (December 2005). "Heterogeneous Hadean hafnium: evidence of continental crust at 4.4 to 4.5 ga". Science 310 (5756): 1947–50. Bibcode:2005Sci...310.1947H. doi:10.1126/science.1117926. PMID 16293721.
- ^ Hong,
D.; Zhang, Jisheng; Wang, Tao; Wang, Shiguang; Xie, Xilin (2004).
"Continental crustal growth and the supercontinental cycle: evidence
from the Central Asian Orogenic Belt". Journal of Asian Earth Sciences 23 (5): 799. Bibcode:2004JAESc..23..799H. doi:10.1016/S1367-9120(03)00134-2.
- ^ Armstrong, R. L. (1991). "The persistent myth of crustal growth". Australian Journal of Earth Sciences 38 (5): 613–630. Bibcode:1991AuJES..38..613A. doi:10.1080/08120099108727995.
- ^ Murphy, J. B.; Nance, R. D. (1965). "How do supercontinents assemble?". American Scientist 92 (4): 324–33. doi:10.1511/2004.4.324. Diakses tanggal 2007-03-05.
- ^ Staff. "Paleoclimatology – The Study of Ancient Climates". Page Paleontology Science Center. Diakses tanggal 2007-03-02.
- ^ a b c Britt, Robert (2000-02-25). "Freeze, Fry or Dry: How Long Has the Earth Got?".
- ^ a b Carrington, Damian (2000-02-21). "Date set for desert Earth". BBC News. Diakses tanggal 2007-03-31.
- ^ a b Li, King-Fai; Pahlevan, Kaveh; Kirschvink, Joseph L.; Yung, Yuk L. (2009). "Atmospheric pressure as a natural climate regulator for a terrestrial planet with a biosphere" (PDF). Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (24): 9576–9579. Bibcode:2009PNAS..106.9576L. doi:10.1073/pnas.0809436106. PMC 2701016. PMID 19487662. Diakses tanggal 2009-07-19.
- ^ a b c Sackmann, I.-J.; Boothroyd, A. I.; Kraemer, K. E. (1993). "Our Sun. III. Present and Future". Astrophysical Journal 418: 457–468. Bibcode:1993ApJ...418..457S. doi:10.1086/173407.
- ^ Kasting, J.F. (1988). "Runaway and Moist Greenhouse Atmospheres and the Evolution of Earth and Venus". Icarus 74 (3): 472–494. Bibcode:1988Icar...74..472K. doi:10.1016/0019-1035(88)90116-9. PMID 11538226.
- ^ a b Ward, Peter D.; Brownlee, Donald (2002). The Life and Death of Planet Earth: How the New Science of Astrobiology Charts the Ultimate Fate of Our World. New York: Times Books, Henry Holt and Company. ISBN 0-8050-6781-7.
- ^ Bounama, Christine; Franck, S.; Von Bloh, W. (2001). "The fate of Earth's ocean" (PDF). Hydrology and Earth System Sciences (Germany: Potsdam Institute for Climate Impact Research) 5 (4): 569–575. Bibcode:2001HESS....5..569B. doi:10.5194/hess-5-569-2001. Diakses tanggal 2009-07-03.
- ^ a b Schrรถder, K.-P.; Connon Smith, Robert (2008). "Distant future of the Sun and Earth revisited". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society 386 (1): 155. arXiv:0801.4031. Bibcode:2008MNRAS.386..155S. doi:10.1111/j.1365-2966.2008.13022.x.
See also Palmer, Jason (2008-02-22). "Hope dims that Earth will survive Sun's death". NewScientist.com news service. Diakses tanggal 2008-03-24.
- ^ Espenak, F.; Meeus, J. (2007-02-07). "Secular acceleration of the Moon". NASA. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-12-05. Diakses tanggal 2007-04-20.
- ^ Poropudas, Hannu K. J. (1991-12-16). "Using Coral as a Clock". Skeptic Tank. Diakses tanggal 2007-04-20.
- ^ Laskar, J. et al. (2004). "A long-term numerical solution for the insolation quantities of the Earth". Astronomy and Astrophysics 428 (1): 261–285. Bibcode:2004A&A...428..261L. doi:10.1051/0004-6361:20041335.
- ^ Murray, N.; Holman, M. (2001). "The role of chaotic resonances in the solar system". Nature 410 (6830): 773–779. arXiv:astro-ph/0111602. doi:10.1038/35071000. PMID 11298438.
- ^ Canup, R.; Asphaug, E. (2001). "Origin of the Moon in a giant impact near the end of the Earth's formation". Nature 412 (6848): 708–712. Bibcode:2001Natur.412..708C. doi:10.1038/35089010. PMID 11507633.
- ^ Whitehouse, David (2002-10-21). "Earth's little brother found". BBC News. Diakses tanggal 2007-03-31.
- ^ Christou, Apostolos A.; Asher, David J. (March 31, 2011). "A long-lived horseshoe companion to the Earth". arฮงiv:1104.0036 [astro-ph.EP]. See table 2, p. 5.
- ^ Connors, Martin; Wiegert, Paul; Veillet, Christian (July 27, 2011). "Earth's Trojan asteroid". Nature 475 (7357): 481–483. Bibcode:2011Natur.475..481C. doi:10.1038/nature10233. PMID 21796207. Diakses tanggal 2011-07-27.
- ^ a b Choi, Charles Q. (July 27, 2011). "First Asteroid Companion of Earth Discovered at Last". Space.com. Diakses tanggal 2011-07-27.
- ^ "UCS Satellite Database". Nuclear Weapons & Global Security. Union of Concerned Scientists. January 31, 2011. Diakses tanggal 2011-05-12.
0 comments: